Alhamdulillah,
hari ini bertepatan dengan perayaan tahun baru hijriah ke 1436. Sebuah masa
yang dimulai dari bersatunya tekad, hasrat, dan tindakan pada masa kenabian. Tentu
tak lengkap rasanya bila kita melewatkan momentum dahsyat ini hanya dengan
berdiam diri saja. Setidaknya, kita renungi lagi bagaimana perjuangan Nabi
Muhammad Saw. dan aplikasinya terhadap era kita masa kini.
Tahun baru
hijriah dimulai dari saat hijrahnya Nabi Muhammad Saw. dari Mekkah menuju
Madinah. Hijrah ini adalah hijrah totalitas. Karena jiwa dan raga ikut
berpindah. Dari kota Mekkah menuju peradaban baru di Madinah. Perpindahan yang
akan disegani dan dikenang seluruh manusia meski awalnya kaum kafir Quraisy
tertawa. Kaum muslim harus melewati berbagai rintangan dan hambatan. Ancaman dibunuh
dan disiksa selama tinggal di Mekkah akhirnya menjadi mudah ketika Allah
memerintahkan untuk pindah. Mereka pun harus rela meninggalkan seluruh harta
dan sanak keluarga di Mekkah dan berhijrah menuju daerah yang mungkin tak semua
dari mereka pernah mengetahuinya. Mereka pindah hanya dengan bekal pakaian di
raga dan iman di dada.
Allah Swt. tidak
akan pernah menyengsarakan hambanya. Orang-orang yang berhijrah yang kemudian
dikenal sebagai kaum Muhajirin diterima dan disambut oleh penduduk Madinah yang
kemudian disebut kaum Ansar. Meskipun mereka tak pernah bertemu sebelumnya,
Allah menyatukan hati mereka. Mereka inilah penolong hamba-hamba Allah yang
kemudian Nabi persaudarakan agar tercipta hubungan baik antara sesama umat. Masyarakat
Madinah pun kemudian berbondong-bondong masuk ke dalam agama islam. Nabi Muhammad
pun membentuk sebuah pemerintahan yang adil dan bijak yang kemudian dikenal
dengan masyarakat madani, masyarakat yang hidup berdampingan, saling menghormati
dan menghargai, bahu-membahu membangun peradaban, dan berdamai meski hidup
dalam perbedaan. Kaum Nasrani dan Yahudi tetap hidup di tempat tinggalnya tanpa
merasa risih dan terusik. Justru, Rasulullah mengadakan ‘Piagam Madinah’ yang
berisi kesepakatan hidup damai dan berdampingan tanpa saling mengganggu dan
harus saling membantu.
Peradaban islam
sejak hijrahnya Rasul dari Mekkah ke Madinah berkembang pesat. Tatanan hidup
masyarakat menjadi beradab di bawah naungan hukum islam. Masyarakat muslim dan
nonmuslim hidup bersama dan saling bahu membahu. Berbagai permasalahan
diselesaikan dengan musyawarah. Islam menjadi agama yang disegani dan dicari
oleh seluruh penduduk jazirah Arab hingga ke Mesir dan Syam. Islam dikenal
seluruh manusia sebagai agama yang beradab, terang, adil, dan damai. Islam tidak
mengajarkan berperang, kecuali kepada musuh yang telah digariskan. Islam tak
diberikan dengan paksaan, melainkan dengan hikmah dan hidayah. Islam yang
sebelumnya di Mekkah dicaci dan diinjak menjadi agama yang terhormat. Mereka berpindah
tak hanya raga, namun juga jiwa.
Kini,
masyarakat muslim khususnya di Indonesia tengah memasuki babak baru peradaban
dengan terpilihnya pemimpin baru. Pemimpin yang amat diharapkan dapat
memperbaiki kondisi masyarakat harus kita dukung berbagai kebijakannya tanpa
mengurangi sikap kritis terhadap kelalaiannya. Masyarakat harus mau mengubah
berbagai kekurangan yang ada menjadi sesuatu yang lebih baik. Jika sebelumnya
masyarakat kita apatis, kini harus reaktif. Bila sebelumnya kita tak peduli,
kini harus berempati. Jika sebelumnya kita terbiasa dengan budaya pungli, ubah
menjadi budaya transparansi. Jika sebelumnya kita terbiasa dengan sikap
individual, mari kita ubah menjadi sikap gotong-royong. Jika sebelumnya kita
tak mau barbagi, kita ubah menjadi ikhlas memberi. Kita harus mau pindah dari
kondisi ‘seadanya’ kini menjadi kondisi ‘berada’ nanti. Kita harus mau berubah dari kondisi yang ‘banyak
masalah’ menjadi ‘banyak solusi’. Kita hapuskan dendam dan benci menjadi maaf
dan kasih. Kita ubah paradigma kita mulai dari diri sendiri kemudian mengajak
famili, dan kalau bisa mengajak semua kerabat dan masyarakat. Itulah hakikat
dari revolusi mental yang digaungkan presiden kini.
Kini, kita
telah hidup di peradaban baru dan di tahun yang baru. kita bentengi diri di era
globalisasi dari ancaman pemikiran ‘kebaratan’ yang bertentangan dengan ‘ketimuran’
dan ‘keislaman’. Mari kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik dengan bercermin
dan berintrospeksi. Hanya dengan tekad yang kuat, kita bisa berhijrah dan
bertransformasi menjadi manusia yang berjati diri islami. Pasang tekad, iringi
dengan sikap. Allah bersama kita.Selamat tahun baru, Yuk, kita Move On!