Beberapa saat yang lalu, dunia digemparkan oleh
aksi penembakan – kemudian dikatakan sebagai terorisme – yang terjadi di kota
yang selama ini digambarkan aman, Paris. Penembakan yang menewaskan 12 orang
ini terjadi pada saat gerakan anti-islam sedang menyebar luas di kawasan Eropa.
Kejadian ini menewaskan 12 orang, delapan di
antaranya adalah jurnalis dan melukai belasan orang lainnya. Sehingga,
tersiaklah kabar ‘teroris melumpuhkan kebebasan berpendapat’ karena banyaknya
jurnalis yang tewas dalam insiden ini. Bahkan, satu di antaranya adalah Charlie
Hebdo, jurnalis yang terkenal kritis terhadap dunia islam. Inilah yang kemudian
dijadikan dalih ‘islam membenci kebebasan berpendapat’.
Insiden ini bermula dari munculnya karikatur
yang menampakkan wajah Nabi Muhammad Saw – sosok suci umat islam – oleh majalah
yang sama dengan namanya, Charlie Hebdo dalam beberapa kesempatan.
Bahkan yang membuat heboh ketika sosok Nabi digambarkan sedang mengatakan “100
coups de fouet, si vous n’etes pas mort de rire” atau bila diterjemahkan
bebas “100 cambukan, jika anda mati tertawa”. Hal ini tentu amat menyinggung
perasaan umat islam. Di sampul majalah lainnya, dituliskan “Mahomet deborde
par les intégristes” atau “Muhammad kewalahan oleh para fundamentalis”. Ini
menggambarkan seolah-olah islam fundamentalis (yang menjalankan agama tidak
seperti non islam inginkan) adalah sesuatu yang menyimpang.
Ya, di Rabu yang tenang di kota Paris telah
terjadi penembakan yang menewaskan orang-orang yang menggelorakan ‘kebebasan
berpendapat’ di kalangan pers. Namun, bukankah tak mungkin tak ada asap bila
tak ada api? Tak mungkin seseorang – yang digambarkan oleh media barat
bertakbir kemudian menyerang dengan brutal – dapat bertindak demikian bila tak
ada sesuatu yang menyebabkannya. Terlebih tindakannya tersebut juga membuat
dirinya ditembak oleh kepolisian setempat. Tentu ada sebab musababnya.
Seorang manusia pasti akan merasa sakit hati
apabila dirinya dihina. Terlebih lagi orang yang begitu dicintainya dihina.
Sebagai contoh, tak mungkin seorang anak (sosok yang dicintai) dihina orang
lain kecuali anak tersebut akan dibela oleh ibunya (sosok yang mencintai).
Demikian pula, tak mungkin Nabi Muhammad (sosok yang dicintai) dihina kecuali
umat islam (sosok yang mencintai) akan membelanya. Seseorang akan membela
dengan cara apapun. Termasuk yang tidak masuk akal di sebagian kalangan.
Umat islam telah bersepakat, sosok Nabi
Muhammad adalah sosok yang mulia dan tidak pantas untuk divisualisasikan dalam
bentuk gambar apapun. Dan seharusnya, kalangan non islam menghormati ini
sebagaimana umat islam menghormati kepercayaan kalangan non islam. Kejadian ini
bisa terjadi disebabkan oleh tidak pahamnya kalangan non islam terhadap
kesakralan sosok Nabi Muhammad. Terlebih lagi ketidakpahamannya itu mereka
lindungi dengan kalimat ‘kebebasan berpendapat’.
Namun, di kalangan umat islam sendiri harusah
arif menghadapi orang yang memusuhinya. Balaslah dengan kebaikan, bukan dengan
kelemahan. Karena membalas tindakan kebodohan (ketidakmengertian) seseorang
dengan kebodohan (kekerasan) adalah tindakan yang tidak tepat.
Nabi Muhammad mencontohkan, saat kalangan non
islam berusaha memusuhi islam, beliau justru menggerakkan hati kalangan non
islam untuk mencintai islam secara maruf. Hingga akhirnya mereka pun memahami
dan bahkan memasuki islam dengan kesungguhan hati. Namun, Rasul tetap
menunjukkan ketegasan bahwa islam jelas berbeda dengan non islam. Sehingga,
tidak bisa mencampur antara tradisi ketidakislaman dengan ajaran keislaman.
Tunjukkanlah dengan rasa bangga bahwa diri ini adalah seorang muslim. Isyhadu
Bi Anna Muslimun. Muslim yang baik, muslim yang taat, muslim yang
paripurna.
Islam sangat menolak dan tidak menyetujui akan
tindakan kekerasan dan kebrutalan. Dalam kasus ini, kedua pihak menjadi salah.
Karena, pihak korban sebenarnya adalah pemantik api, sedangkan asapnya adalah
tersangka yang melakukan pembunuhan di Rabu kelabu itu. Tapi, yang sebenarnya
harus dipadamkan adalah apinya, bukan asapnya. Tindakan mereka yang ‘menyalakan
api namun memadamkan asap’ akhirnya seperti ‘lempar batu sembunyi tangan’ atau
bahkan ‘lempar batu salahkan orang’ karena mereka hanya menyalahkan akibat,
tanpa mengusut sebab.
Sudah saatnya kini dunia berdamai. Kaum
jurnalis kini harus mengubah ‘kebebasan berpendapat’ menjadi ‘pendapat
bermartabat’. Karena, kebebasan bukanlah sifat manusia, tapi nafsu manusia.
Maka, haruslah digelorakan jurnalistik yang beretika. Jurnalistik yang memahami
dan menghormati kepercayaan umat beragama, terlebih lagi islam yang telah memberikan
etika hidup sempurna. Oleh karena itu, budayakanlah jurnalisme yang saling
menghormati agar tak tumbuh riak di kemudian hari.
Umat islam kini harus dibekali kembali dengan
semangat perdamaian. Jangan mau dipancing oleh pihak-pihak yang membencinya.
Tunjukkanlah kebaikan islam. Namun, perdamaian bukan berarti islam selalu dalam
posisi kelemahan. Jutru, perdamaian itulah yang menjadikan kekuatan. Kekuatan
untuk menebar rahmat bagi seluruh alam.
Kini, dunia ramai dengan kalimat #JeSuisCharlie
atau saya adalah Charlie. Tapi, ketika melihat sosok Charlie sebagai sang
pemantik api yang mengakibatkan asap yang menyesakkan dada, tak mungkinlah kita
mau disamakan. #JeSuis(Pas)Charlie (Saya Bukanlah Charlie) tampaknya kini lebih
pantas.


sy rasa tndakan itu bnr,,,mau smpai kpn sosok yg agung dilecehkn trs,,,dr awal jg sdh bnyk kcaman,,tp tdk digubris,,,dan saat ny action... darahnya halal!!
BalasHapusnabi muhammad jika ad yng melecehkan agama dan tuhan nya juga pnya adab.. mngadakan pertemuan.... jika dlm beberapa pertemuan tdk mnghasilkan sesuai yng baik dan mereka berulah berulah dan terus berulah... bolehkan koq diperangi...sbb mereka degil...gk bisa diomongin!!!