Sabtu, 25 Oktober 2014

YUK, MOVE ON!

Alhamdulillah, hari ini bertepatan dengan perayaan tahun baru hijriah ke 1436. Sebuah masa yang dimulai dari bersatunya tekad, hasrat, dan tindakan pada masa kenabian. Tentu tak lengkap rasanya bila kita melewatkan momentum dahsyat ini hanya dengan berdiam diri saja. Setidaknya, kita renungi lagi bagaimana perjuangan Nabi Muhammad Saw. dan aplikasinya terhadap era kita masa kini.
Tahun baru hijriah dimulai dari saat hijrahnya Nabi Muhammad Saw. dari Mekkah menuju Madinah. Hijrah ini adalah hijrah totalitas. Karena jiwa dan raga ikut berpindah. Dari kota Mekkah menuju peradaban baru di Madinah. Perpindahan yang akan disegani dan dikenang seluruh manusia meski awalnya kaum kafir Quraisy tertawa. Kaum muslim harus melewati berbagai rintangan dan hambatan. Ancaman dibunuh dan disiksa selama tinggal di Mekkah akhirnya menjadi mudah ketika Allah memerintahkan untuk pindah. Mereka pun harus rela meninggalkan seluruh harta dan sanak keluarga di Mekkah dan berhijrah menuju daerah yang mungkin tak semua dari mereka pernah mengetahuinya. Mereka pindah hanya dengan bekal pakaian di raga dan iman di dada.
Allah Swt. tidak akan pernah menyengsarakan hambanya. Orang-orang yang berhijrah yang kemudian dikenal sebagai kaum Muhajirin diterima dan disambut oleh penduduk Madinah yang kemudian disebut kaum Ansar. Meskipun mereka tak pernah bertemu sebelumnya, Allah menyatukan hati mereka. Mereka inilah penolong hamba-hamba Allah yang kemudian Nabi persaudarakan agar tercipta hubungan baik antara sesama umat. Masyarakat Madinah pun kemudian berbondong-bondong masuk ke dalam agama islam. Nabi Muhammad pun membentuk sebuah pemerintahan yang adil dan bijak yang kemudian dikenal dengan masyarakat madani, masyarakat yang hidup berdampingan, saling menghormati dan menghargai, bahu-membahu membangun peradaban, dan berdamai meski hidup dalam perbedaan. Kaum Nasrani dan Yahudi tetap hidup di tempat tinggalnya tanpa merasa risih dan terusik. Justru, Rasulullah mengadakan ‘Piagam Madinah’ yang berisi kesepakatan hidup damai dan berdampingan tanpa saling mengganggu dan harus saling membantu.
Peradaban islam sejak hijrahnya Rasul dari Mekkah ke Madinah berkembang pesat. Tatanan hidup masyarakat menjadi beradab di bawah naungan hukum islam. Masyarakat muslim dan nonmuslim hidup bersama dan saling bahu membahu. Berbagai permasalahan diselesaikan dengan musyawarah. Islam menjadi agama yang disegani dan dicari oleh seluruh penduduk jazirah Arab hingga ke Mesir dan Syam. Islam dikenal seluruh manusia sebagai agama yang beradab, terang, adil, dan damai. Islam tidak mengajarkan berperang, kecuali kepada musuh yang telah digariskan. Islam tak diberikan dengan paksaan, melainkan dengan hikmah dan hidayah. Islam yang sebelumnya di Mekkah dicaci dan diinjak menjadi agama yang terhormat. Mereka berpindah tak hanya raga, namun juga jiwa.
Kini, masyarakat muslim khususnya di Indonesia tengah memasuki babak baru peradaban dengan terpilihnya pemimpin baru. Pemimpin yang amat diharapkan dapat memperbaiki kondisi masyarakat harus kita dukung berbagai kebijakannya tanpa mengurangi sikap kritis terhadap kelalaiannya. Masyarakat harus mau mengubah berbagai kekurangan yang ada menjadi sesuatu yang lebih baik. Jika sebelumnya masyarakat kita apatis, kini harus reaktif. Bila sebelumnya kita tak peduli, kini harus berempati. Jika sebelumnya kita terbiasa dengan budaya pungli, ubah menjadi budaya transparansi. Jika sebelumnya kita terbiasa dengan sikap individual, mari kita ubah menjadi sikap gotong-royong. Jika sebelumnya kita tak mau barbagi, kita ubah menjadi ikhlas memberi. Kita harus mau pindah dari kondisi ‘seadanya’ kini menjadi kondisi ‘berada’ nanti.  Kita harus mau berubah dari kondisi yang ‘banyak masalah’ menjadi ‘banyak solusi’. Kita hapuskan dendam dan benci menjadi maaf dan kasih. Kita ubah paradigma kita mulai dari diri sendiri kemudian mengajak famili, dan kalau bisa mengajak semua kerabat dan masyarakat. Itulah hakikat dari revolusi mental yang digaungkan presiden kini.

Kini, kita telah hidup di peradaban baru dan di tahun yang baru. kita bentengi diri di era globalisasi dari ancaman pemikiran ‘kebaratan’ yang bertentangan dengan ‘ketimuran’ dan ‘keislaman’. Mari kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik dengan bercermin dan berintrospeksi. Hanya dengan tekad yang kuat, kita bisa berhijrah dan bertransformasi menjadi manusia yang berjati diri islami. Pasang tekad, iringi dengan sikap. Allah bersama kita.Selamat tahun baru, Yuk, kita Move On!