Senin, 29 Juni 2015

Rainbow? No!

Amerika Serikat kembali membuat heboh dunia. Bukan dengan penemuan teknologinya ataupun dengan ekspansi militernya, namun keputusan Supreme Court (Mahkamah Agung) pada 26 Juni silamlah yang membuat heboh. Amerika melegalkan pernikahan sesama jenis bagi para LGBT (Lesbian, gay, Biseksual, dan Transgender). Itulah pemicu kehebohannya.
Gerakan Perjuangan Hak Gay Amerika atau yang dikenal sebagai American Gay Rights Movement sudah dimulai dari waktu lama. Dikutip dari situs infoplease.com, para aktivis di negeri itu telah memulainya sejak tahun 1924. Dengan pendirian The Society for Human Rights in Chicago pada tahun itu sebagai organisasi pertama yang memperjuangkan hak tersebut. Hingga pada tahun-tahun berikutnya beberapa negara bagian memulai untuk melegalkan pernikahan sesama jenis. Seperti pada tahun 2004, Massachusets melegalkan pernikahan sesama jenis. Pada tahun 2014, sudah 35 negara bagian yang melegalkannya.  
Kemenangan besar bagi para LGBT setelah pelegalan yang dilakukan oleh Mahkamah Agung di Amerika. Mereka pun berkampanye dengan penggunaan simbol pelangi. Beberapa tokoh dan media massa besar Amerika pun sudah menyatakan dukungannya. Hillary Clinton, calon presiden yang akan bertarung tahun depan mendukung secara terbuka di akun twitter miliknya, @hillaryclinton dengan menampilkan foto profil bertuliskan History dengan warna pelangi. Media seperti Huffington Post, VH1, Youtube, Twitter, dan lainnya pun melakukan hal yang sama di akun twitter resminya. Ini menunjukkan dukungan besar bagi LGBT di Amerika.
Para pendukung LGBT melandaskan dukungannya terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Yakni hak setiap orang untuk menyatakan orientasi seksualnya kepada siapapun yang disukainya tanpa boleh ada batasan dalam jenis kelamin. Ini dipandang sesuai dengan kultur Amerika yang menyatakan kebebasan individu di segala aspek kehidupan atau liberal. Sehingga, LGBT pun memiliki hak yang sama untuk dapat melangsungkan pernikahan.
Pengaruh besar Amerika patut diwaspadai. Karena, di Indonesia yang bermasyarakat religius dan tidak buta oleh kepentingan HAM haruslah menolak jika ini menyebar di Indonesia. Jangan sampai kita terbutakan oleh istilah HAM hingga kita melanggar sesuatu yang telah digariskan. Apalagi, kita mendukung gerakan yang sedang mewabah di dunia tersebut. Mari kita waspada diri dan menjaga negeri.
Sudah harus tertanam di diri kita bahwa, sudah merupakan kodrat dari Allah bahwa laki-laki akan berpasangan dengan perempuan. Tak hanya manusia, hewan hanya berpasangan jantan dengan betina, tumbuhan pun hanya berpasangan putik dan benang sari. Dan ini merupakan suatu hukum alam yang apabila dilanggar, dampaknya akan besar. Karena, perkawinan dan pernikahan memiliki tujuan utama yakni untuk melanjutkan keturunan.
Dalam Undang-Undang perkawinan no. 1 tahun 1974, disebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sudah jelas bahwa di Indonesia tidak mengakomodasi kepentingan orang yang ingin melegalkan pernikahan sesama jenis. Karena perkawinan hanya antara seorang pria dan wanita. Hingga kita berharap, semoga undang-undang perkawinan ini tidak direvisi untuk tetap menjamin Ketuhanan yang dianut masyarakat Indonesia.
Marilah kita menengok lagi kisah kaum Sodom, yang diazab dan dibinasakan karena menikah dengan sesama jenis. Seharusnya ini bisa kita ambil hikmahnya agar tak menantang kodrat yang telah digariskan. Karena, hanya kesengsaraan yang akan didapat.
Allah Swt. telah berfirman dalam surat Asy Syu’ara ayat 165 – 166
أَتَأْ تُوْنَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِيْنَ   وَتَذَرُوْنَ مَاخَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌُ عٰدُوْنَ
                Artinya: Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (untuk berbuat homoseksual)? Dan kamu tinggalkan (perempuan) yang telah diciptakan Tuhanmu untuk menjadi istri-istrimu? Bahkan kalian menjadi kaum yang melampaui batas.
                Dari Ayat tersebut, Allah menanyakan kepada kaum Sodom yang bertindak homoseksual. Mengapa ia tetap melakukan hal tersebut sedangkan sudah diberikan sesuatu  yang halal bagi mereka? Hingga akhirnya orang yang tetap melanggar kodratnya sebagai manusia normal dan secara sukarela menjadi yang abnormal dengan menikahi sesama jenis.
                Mari kita pelajari lagi diri kita, dari sisi agama sebagai landasan utama, dari sisi ilmu pengetahuan seperti biologi, sosiologi, dan lainnya sebagai pendukung. Karena, secara biologis pun tak hanya manusia, hewan dan tumbuhan pun sudah berpasangan dengan lawan jenis. Jangan sampai kita menjadi manusia yang lebih hina dari hewan hanya karena mengikuti nafsu semata. Secara sosial pun, kita akan menjadi manusia yang normal apabila menikahi pasangan lawan jenis. Mari kita berdoa agar terhindar dari penyakit ini. Amiin.

Manusia telah dicipta dengan sempurna
Setiap orang pun telah ditakdirkan memiliki pasangan
Maka, syukuri yang telah diberikan

Agar hidup kita menjadi tentram

Jumat, 26 Juni 2015

So Hot!!!


Fenomena suhu ekstrem kembali terjadi di berbagai belahan dunia. Seperti yang dilansir oleh media massa, kejadian ini kini terjadi di Pakistan setelah sebelumnya menyerang negeri Bollywood, India. Fenomena alam ini pun telah menewaskan ribuan orang. Ditambah lagi, kondisi masyarakat Pakistan yang mayoritas muslim mengharuskan mereka tetap menjalankan puasa di tengah suhu yang begitu dahsyat. Sehingga, banyak yang meninggal akibat menderita dehidrasi akut.
Peningkatan suhu yang terjadi sebenarnya adalah gejala normal. Karena, saat ini matahari sedang berada di bagian utara bumi. Peristiwa ini menandakan bahwa musim akan berganti, di belahan bumi utara menjadi musim panas, di belahan bumi selatan menjadi musim dingin, sedangkan di daerah khatulistiwa akan terjadi perpindahan pergerakan angin muson. Namun, kini peningkatan suhu tersebut terjadi sangat ekstrem.
Peningkatan suhu yang ekstrem ini terjadi akibat dari adanya penyimpangan gelombang Rossby. Gelombang Rossby ini merupakan pergerakan massa udara di sepanjang aliran jet (Jet Stream). Saat terjadi penyimpangan, akhirnya membuat suhu meninggi dan aliran udara menjadi tidak normal. Saat ini, penyimpangan tersebut berada di sekitar Pakistan setelah sebelumnya di India. Sehingga, suhu udara menjadi sangat ekstrem di sana. Bahkan, ada pula yang memprakirakan kondisi ini akan bergeser ke wilayah Timur Tengah.
Tentu kita khawatir, peningkatan suhu ekstrem ini akan menimpa tanah kita. Apalagi, fenomena ini menunjukkan frekuensi yang semakin sering dengan interval tahunan. Banyak pihak yang menyatakan, perubahan iklim ini terjadi akibat pemanasan global yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan yang amat parah.
Seperti yang diketahui, negara-negara seperti India, China, Indonesia, dan banyak negara berkembang lainnya kini sedang giat membangun industri. Namun, pembangunan industri itu seringkali abai terhadap kondisi lingkungan. Banyak hutan dialihfungsikan menjadi perkebunan, pertambangan, dan permukiman sehingga tak ada lagi tutupan vegetasi yang memadai. Padahal hutan memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah fungsi klimatologis atau sebagai penjaga iklim bumi.
Kondisi hutan di berbagai negara kini semakin mengkhawatirkan. Di India, hutan yang sebelumnya banyak menutupi di bagian utara kini semakin berkurang. Dampaknya seperti yang terjadi bulan lalu, suhu meningkat drastis karena udara tidak terlembabkan oleh pepohonan. Bahkan, yang lebih parah adalah penyusutan es di pegunungan Himalaya. Penyusutan es ini tentu akan mengancam kehidupan warga di sepanjang aliran Sungai Gangga, Indus, dan sungai-sungai lain yang berhulu di Himalaya karena air akibat pencairan gletser akan melimpah di musim panas dan di tahun mendatang akan hilang hingga terjadi kekeringan.
Di Indonesia, ancaman bencana akibat perubahan iklim begitu besar. Kondisi hutan Indonesia yang semakin hari semakin menyusut akibat pembalakan liar, alih fungsi lahan menjadi kebun sawit, hingga perambahan hutan untuk pertambangan semakin memperparah kerusakannya. Ditambah lagi minimnya kesadaran untuk melakukan reboisasi dan penghijauan di berbagai tempat. Kondisi ini akan berbahaya apabila terjadi El Nino yang parah seperti yang terjadi di akhir tahun 90-an. Kebakaran hutan akan senantiasa mengancam.
Kondisi bumi yang terus memanas di usianya yang semakin renta ini sebenarnya tak bisa dari peranan manusia sebagai pengubah kondisi bumi. Manusia sebagai makhluk superior yang dapat berbuat apa saja demi memuaskan nafsunya akan membuat kondisi yang justru berdampak bagi kehidupan manusia itu sendiri. Pantaslah ketika Allah berfirman di surat Ar Ruum ayat 41
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى البَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرجِعُوْنَ
                Arti dari firman Allah tersebut adalah telah tampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar manusia merasakan akibat dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.
                Jelaslah bahwa berbagai fenomena alam dan pemanasan global yang terjadi ini merupakan akibat dari tindak-tanduk manusia yang merusak alamnya. Sehingga, seharusnya kita berpikir sejenak untuk membaca tanda-tanda yang Allah kirimkan melalui berbagai bencana agar kita dapat kembali ke jalan yang benar, jalan Allah Swt. sehingga, di kemudian hari manusia sadar dan tidak lagi meruak alam yang telah diciptakan tak lain hanya untuk kepentingan manusia.

Ingatlah, manusia adalah khalifah di muka bumi
Maka, jadilah khalifah yang bijak
Yang menjaga dan melestarikan alam
Agar kehidupan kita bahagia

Dunia dan akhirat