Idul Adha tinggal sepekan, hari raya yang menjadi
kebanggaan umat islam ini akan kembali datang. Hari raya Idul Adha tentunya
bertepatan dengan keberangkatan saudara kita yang menunaikan ibadah haji.
Pelaksanaan wukuf di Padang Arafah menjadi puncak dari segala ritual haji. Dalam
pelaksanaan wukuf ini, sangatlah agung dilaksanakan, karena jutaan umat islam
yang berhaji, mereka berkumpul di satu tempat yang sangat luas untuk merenungi
segala nikmat yang diberikan dan kemudian mensyukurinya. Selain itu, para jemaah
haji tentu akan merenungi bagaimana kehidupan mereka nanti setelah kembali ke
alam yang abadi, dan kemudian mereka akan bertaubat dengan sungguh sungguh agar
mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat.
Sebagai seorang muslim yang taat akan perintah
Allah dan Rasul-Nya, tentulah kita akan terpanggil untuk melaksanakan perintah
Kurban. Kurban sendiri menurut bahasa artinya mendekatkan. Mendekatkan disini
tentu kepada Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, tentulah kita akan mendekatkan
hati kepada para mustahik yang menerima daging kurban. Inilah kelebihan dari
islam, yakni Ukhuwah Islamiyah. Meskipun antara pemberi dan penerima tak
saling mengenal, mereka akan tetap berbagi. Kebersamaan antar umat islam ini
tentunya akan memberikan manfaat yang besar kepada keduanya. Bagi pemberi
tentulah ia akan mendapatkan rida dan pahala dari Allah jika ia memberi dengan
ikhlas, dan bagi penerima maka ia akan mendapatkan santapan yang berkah dan
mendapat rida Allah pula.
Namun, dibalik melimpahnya berkah Idul Adha, masih
saja ada umat islam yang kurang mensyukuri nikmat Allah. Kita dapat melihat
bagaimana mereka yang sudah pergi haji namun tetap saja melakukan kejahatan
seperti korupsi. Tentulah hajinya tak akan mendapatkan berkah apalagi predikat
mabrur. Karena ia berhaji saja sudah dengan uang haram, maka hajinya pun akan
rusak pahalanya. Selain itu ada saja umat islam yang membagikan hewan kurban
namun dengan cara yang tidak manusiawi. Para mustahik yang seharusnya dihormati
namun dibiarkan berhimpitan hingga terinjak injak karena berebut daging kurban.
Kejadian tersebut seharusnya dapat dihindari jika sistem yang mengatur
pembagian kurban dijalankan sebaik-baiknya. Contoh diatas sama sekali tidak
mencerminkan budaya yang islami. Karena sesungguhnya islam adalah agama yang
mendidik umatnya agar mencari rizki yang halal di muka bumi dan berbagi dengan
ikhlas dan tanpa ada rasa riya ataupun sum’ah.
Berhaji sangatlah baik, tapi akan lebih baik lagi
jika dilakukan hanya mengharap rida Allah. Mereka yang pulang dari haji
tentulah mengharap rida Allah dan mendapatkan kemabruran, dan mereka yang
berada di tanah air tentulah mengharapkan para jemaah haji dapat mencontohkan
perilaku yang islami, seperti salat berjemaah, rajin bersedekah, suka membantu
sesama, dan kegiatan lainnya. Berkurban juga sangatlah baik, namun akan lebih
baik lagi jika dilakukan dengan ikhlas. Para mustahik tentu akan mengharapkan
para pemberi kurban memberikan kurbannya dengan ikhlas, sehingga mereka dapat
memakan daging kurban yang halal dan berkah.
Setelah Idul Adha, umat islam akan menyongsong
tahun barunya. Tahun baru hijriah hanya berselang kurang lebih tiga pekan
setelah Idul Adha. Tentu akan lebih baik jika kita membawa hikmah Idul Adha
sebagai modal untuk membangun pribadi yang lebih baik di tahun 1434 H
mendatang. Selamat Idul Adha!!!
Ket:
Riya : melakukan sesuatu agar dipuji
Sum’ah : melakukan sesuatu kemudian membicarakannya
agar orang lain tahu ia telah berbuat baik
Ukhuwah islamiyah : ikatan persaudaraan antarsesama
umat islam
Mohon maaf jika ada tulisan saya yang kurang
berkenan.
Follow @famajiid on twitter
Silakan untuk memberikan komentar yang baik dan sopan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih | شكرا جزيلا | Thank You | Merci Beaucoup