Sabtu, 20 April 2013

Kualitas Pendidikan Indonesia

Melihat judul di atas, apa pendapat Anda? Sudah baik? Cukup baik? Atau jauh dari harapan? Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Pearson, Indonesia termasuk di peringkat yang sangat rendah. Sungguh menakutkan.
Pendidikan sejatinya adalah modal dasar sebuah bangsa untuk mencapai kemajuan. Dengan pendidikan, penguasaan terhadap teknologi akan dicapai lebih mudah. Suatu negara yang sudah menguasai teknologi, maka akan lebih mudah ia menguasai dunia. Hal ini sudah dibuktikan oleh negara-negara Barat yang mampu menguasai teknologi. Kini, seharusnya kita sadar bahwa mereka yang berilmu tentu akan lebih banyak berbicara di percaturan global.
Indonesia harus mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Dilihat dari statistik berbagai lembaga survei, kualitas kita masih cukup rendah. Bila dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, terlihat jurang pemisah yang cukup besar. Kita masih harus belajar, bagaimana cara untuk mengajar dengan benar. Tenaga pendidik, fasilitas pendidikan, dan kualitas didikan harus dioptimalkan.
Kualitas guru di Indonesia bisa dibilang masih cukup rendah. Guru juga kurang terlihat kesejahteraannya. Dengan gaji seadanya, mereka harus mengajar seharian penuh. Finlandia, pemegang kualitas tertinggi dalam pendidikan rupanya sudah mencari pendidik yang handal sejak awal. Minimal bergelar magister, dan harus lulusan 10 terbaik dari setiap fakultas. Syarat yang cukup ketat untuk seorang guru. Mereka pun digaji tinggi. Di Indonesia bisa dilihat bahwa kesarjanaan guru masih kurang. Guru yang belum mampu mengajar pun terpaksa mengajar. Interaksi dengan murid pun menjadi kurang hidup. Masih banyak guru yang menggunakan metode mengajar lama, hanya dari guru ke murid. Murid tak banyak dilibatkan. Proses pengajaran pun menjadi membosankan, dan akhirnya membuat murid malas belajar. Guru-guru berkualitas pun masih terkumpul di kota-kota besar. Pemerataan akses pendidikan pun kurang. Banyak daerah pelosok yang tak memiliki guru. Ini harus segera diperbaiki.
Kualitas pendidik yang kurang, rupanya juga memengaruhi kualitas didikan. Murid banyak yang malas belajar, PR menumpuk, takut matematika, takut IPA, takut IPS, hanya senang olahraga, dan banyak keluhan lainnya. Di saat ujian pun, masih banyak yang gemar menyontek. Murid hanya ingin cara instan mendapat nilai, guru pun ada yang menggratiskan nilai. Tanpa ulangan, nilai sudah bagus. Hasilnya, murid secara kuantitas nilai tinggi, namun kualitas akademik kurang.
Gedung sekolah banyak yang rusak, dana bantuan pun tak jelas, banyak daerah terpencil yang tak punya sekolah, dan masih banyak lagi yang memilukan dari fasilitas pendidikan di Indonesia. Alokasi dana pendidikan sebanyak 20% pun kurang efektif berjalan. Banyak sekolah yang untuk menjangkaunya pun, harus berjuang sepanjang jalan. Belum lagi kualitas guru yang kurang inovatif dan kurang membangun karakter bangsa. Ketersediaan buku teks siswa pun masih sekadarnya. Kebutuhan siswa kurang tertampung, kebutuhan guru pun secukupnya.
Melihat pelajar Indonesia pun ada dua golongan. Golongan pertama, mereka yang sungguh-sungguh belajar, rajin membaca, patuh terhadap guru, berprestasi, berperilaku terpuji, dan jujur. Inilah kualitas yang diharapkan. Atau mungkin sering bolos, kalaupun datang terlambat, malas belajar, sering menyontek, dan tidak antusias. Hal ini harus dihindari. Ingatlah, bahwa kemajuan Indonesia hanya dapat diraih bila semua elemen masyarakat melakukan tugas secara tepat.
Berdasarkan penjelasan di atas, tepatlah jika kita harus bekerja keras memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia. Semua harus dimulai dari sekarang. Kepada para guru, bersikaplah profesional, mengajarlah dengan ikhlas, dan jadilah panutan bagi murid. Kepada para pelajar, buktikanlah bahwa dengan kejujuran, semua akan diraih dengan halal. Belajarlah dengan giat, karena Andalah tumpuan harapan bangsa. Kepada pemerintah, fasilitasilah sekolah, bentuklah metode pengajaran yang baik, tanamkan pendidikan moral dan budaya. Dengan itu, Indonesia akan memiliki anak yang cerdas, namun berbudaya baik. Teruslah perbaiki dari sekarang. Karena kita yakin, Indonesia akan menjadi pemimpin ke depan. Majulah Indonesia!!!!

Jumat, 05 April 2013

Anti Antikorupsi



Korupsi akhir-akhir ini menjadi kata yang lumrah didengar di Indonesia. Banyak waktu yang tersita oleh pemberitaan mengenai korupsi. Rakyat pun semakin geram dengan semakin berkualitas dan berkuantitasnya koruptor di negeri ini. KPK pun seperti tak pernah berhenti menjaring penyengsara rakyat. Kekuatan politik dan uang menjadi benteng dari penjara. Kalaupun terbukti, banyak saja yang masih rajin berkilah.
                Korupsi sebenarnya masalah akut. Harus segera diberantas. Jangan sampai menjamak. Kekhawatiran ini harus didukung oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai gerakan nasional untuk menghadang korupsi yang semakin merajalela. Kekuasaan absolut yang diktaktor memang tidak ada. Tapi, kini justru uang yang lebih banyak bicara. Tak perlu banyak berkilah, cukup sediakan setumpuk harta, vonis tinggal mimpi. Inilah yang semakin parah, melawan korupsi dengan suap. Dosa satu ditutup dengan dosa baru.
                Kesadaran untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan hak harus dimulai sejak masih kecil. Proses bertumbuhnya anak Indonesia harus didampingi dengan pembinaan karakter mulia agar pemimpin Indonesia ke depan lebih berkualitas. Anak-anak harus bisa membedakan yang benar atau yang salah. Sehingga, ketika sudah menjadi dewasa, mereka tak akan mau tergiur oleh harta yang haram. Dengan tertanamnya sikap berani berbuat benar, harapan untuk meraih Indonesia yang lebih baik pun semakin besar.
Peringkat korupsi Indonesia masih cukup tinggi. Bahkan bila dibandingkan negara tetangga Singapura, Indonesia terpaut jauh. Ini harus menjadi pelajaran bahwa kesadaran menolak tindakan korupsi harus merakyat. Dari wirausahawan muda hingga pejabat negara harus sadar bahwa korupsi hanya akan menambah sengsara dan dosa. Seluruh rakyat Indonesia jangan lagi memilih pemimpin yang terbukti korupsi. Kalaupun sudah terlanjur, kritisi setiap hal yang mencurigakan. Peran serta masyarakat untuk mengawasi pemerintahan pun bisa menjadi kekuatan dalam menghadang perilaku korup pejabat. Kita harus sadar bahwa kebaikan akan tetap berjaya, karena itu jaminan Tuhan.
Anti korupsi kini menjadi kekuatan untuk melawan korupsi. Perlawanan untuk melawan korupsi memang harus dimulai dari diri sendiri. Tidak menerima yang bukan hak, menolak diberi agar kita memberi, adalah beberapa sikap yang dapat kita lakukan untuk menghindar dari jebakan korupsi. Jangan sampai anti korupsi ini terpatahkan semangatnya oleh anti antikorupsi. Anti antikorupsi sama saja membiarkan bangsa ini semakin terpuruk. Jangan pesimis terhadap apa yang ada saat ini. Berjuanglah untuk meraih Indonesia emas di masa depan. Indonesia masih memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa yang besar, berkuasa, dan berjaya di bumi ini. Alam dan manusia harus di sinkronkan agar kemajuan Indonesia lebih optimal. Pendidikan yang baik pada anak akan semakin memperkokoh tembok antikorupsi. Indonesia bersatulah, karena kita adalah bangsa yang besar. Mulai dari saat ini! Anti Anti Antikorupsi!!!