Jumat, 17 April 2015

Persprektif Ujian Nasional dari Peserta

Polemik pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/MA/SMK terus berlanjut. Pelaksanaan UN pada Senin hingga Rabu pekan ini dipandang masih memiliki beberapa masalah. Terutama adalah kebocoran soal dan beredarnya kunci jawaban. Tadi malam, beredar kabar bahwa Mendikbud ingin pelaksanaan UN diulang di beberapa wilayah yang terindikasi mendapatkan bocoran soal. Tak ayal, ini membuat banyak orang heran dan bingung. Terutama di kalangan pelajar sendiri. Penulis, yang juga ikut dalam UN tahun ini kiranya perlu memberikan pandangan terhadap masalah ini.
UN menjadi ujian yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan dalam beberapa tahun belakangan. Sebagai penentu kelulusan, UN menjadi ujian sakral yang dihadapi peserta didik untuk menyelesaikan studi dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, karena posisinya yang menentukan kelulusan siswa, pada akhirnya banyak siswa yang merasa tidak mampu pun mencari cara lain yang tak halal, mencari kunci jawaban. Parahnya lagi, pihak sekolah pun yang tak ingin malu melihat siswanya ada yang tidak lulus, justru membiarkan hal ini terjadi. Berangkat dari hal ini, pada UN tahun ini, Mendikbud Anies Baswedan menyatakan UN tidak mempengaruhi kelulusan siswa dan hanya akan menjadi bahan pemetaan sekolah.
Seharusnya, dengan dikembalikannya penentuan kelulusan siswa ke sekolah masing-masing, membuat siswa tak lagi harus tertekan dalam melaksanakan UN. Sehingga siswa dapat menilai kemampuannya secara jujur terhadap hasil pembelajarannya selama di jenjang SMA. Namun, yang terjadi justru tetap saja banyak siswa yang mencari kunci jawaban. Dan yang parahnya lagi, naskah soal pun dibocorkan oleh oknum pihak percetakan dan disebar di internet.
Sebenarnya, beredarnya kunci jawaban UN telah menjadi hal yang lumrah dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kini menjadi menghebohkan karena, tujuan UN tahun ini yakni untuk mengetahui indeks kejujuran sekolah menjadikannya sia-sia. Kecenderungan siswa untuk mendapatkan nilai tinggi membuatnya lupa arah. Mereka pun rela merogoh kantung hingga 250 ribu hanya untuk kunci jawaban. Pengorbanan belajar menjadi hancur oleh beberapa lembaran uang.
Mengapa siswa tak ingin jujur? Ada beberapa alasan. Pertama, ia tak yakin dengan kemampuannya sendiri. Seorang siswa yang tidak berprestasi secara akademik di sekolahnya akan cenderung tidak percaya diri dengan apa yang ia kerjakan. Akhirnya ia mencari kunci jawaban hanya demi bisa lulus. Dan, ketika kini UN tak lagi menjadi penentu kelulusan, masalah ini harusnya sudah dapat terselesaikan.
Kedua, materi pembelajaran yang terlalu kompleks. Ini yang menjadi masalah bagi sebagian besar peserta UN termasuk penulis. Kompleksitas soal UN yang diujikan setiap tahunnya selalu meningkat. Sedangkan, di beberapa sekolah ada guru yang tidak rajin memberikan pengajaran di kelas. Sehingga, banyak siswa yang tidak memahami materi yang pada akhirnya menjadi tidak siap melaksanakan UN. Hal ini yang menjadi keprihatinan. Masih ada saja guru yang tak memiliki kesadaran pengabdian untuk mencerdaskan putra-putri bangsa. Bahkan, justru membiarkan siswanya mencari kunci jawaban agar nilai tetap memuaskan. Pola pikir guru yang hanya “numpang lewat kelas” tapi tak memberikan pemahaman harus diubah. Pengabdian harus lebih diutamakan dibandingkan hanya mengejar perut semata.
Ketiga, kemalasan. Inilah yang menjadi alasan utama bagi para siswa. Rasa malas para siswa menjadikan mereka tak mau belajar. Pola pikir untuk apa belajar kalau nanti kunci jawaban bisa bayar harus diubah. perjuangan untuk kesuksesan harus dibangun dari pembelajaran dengan kesabaran selama beberapa tahun. Toh, pada akhirnya ketika ia memakai kunci jawaban, tak akan ada kepuasan. Hanya rasa senang lulus saja. Namun, batin pasti tak nyaman.
Lantas, harus bagaimana?
1.       Tanamkan kejujuran sebagai landasan.
Kejujuran merupakan kunci keberkahan. Siswa jujur Insya Allah menjadi orang yang terpuji di kemudian hari. Jujur pulalah yang akan memberikan kepuasan hati, jiwa, dan pikiran. Berikanlah kebahagiaan kepada orang tua dan guru dari hasil kejujuran. Mental penyontek harus diubah menjadi mental pejuang. Bukan lagi malas, namun usaha keras.
2.       Tingkatkan perjuangan.
Siswa harus ditanamkan nilai-nilai perjuangan untuk menuju suatu tujuan. Jika tujuannya adalah lulus dengan hasil yang terbaik, maka perjuangan yang diberikan harus yang lebih baik pula. Karena, tak mungkin seseorang yang berjuang sungguh-sungguh tak Allah mudahkan baginya jalan.
3.       Teruskan doa sebagai permohonan.
Ketika belajar telah maksimal, jujur pun telah diterapkan, maka doa menjadi senjata pamungkas. Semua yang telah dikerjakan, Allahlah penentu jalan. Maka, tak mungkin rasanya kita berusaha tanpa ada pertolongan Tuhan.

                Akhirnya, UN telah dilaksanakan. Meski pemerintah menimbang perlu adanya UN ulangan, penulis merasa itu hanya akan mubazir saja. Pelajar tentu akan merasa keberatan karena akan menambah  beban belajar lagi baginya. Guru pun tak setuju karena tak semua siswa melakukan kecurangan. Jika pemerintah berdalih hanya akan diulang di sekolah yang diduga melakukan kecurangan, apakah ada sekolah yang terima diduga curang, dan apa dasar dari dugaan tersebut? Ini akan memberikan rasa ketidakadilan dan dikhawatirkan menimbulkan praduga yang tak berdasar. Penulis pun tak setuju. Karena, lebih baik memperbaiki mental para siswa dan sistem pendidikan yang berjalan dibandingkan harus mengulang ujian yang hanya menambahh beban pemerintah, sekolah, dan terutama siswa. Semoga ini bisa jadi pertimbangan.