Polemik pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat
SMA/MA/SMK terus berlanjut. Pelaksanaan UN pada Senin hingga Rabu pekan ini
dipandang masih memiliki beberapa masalah. Terutama adalah kebocoran soal dan
beredarnya kunci jawaban. Tadi malam, beredar kabar bahwa Mendikbud ingin
pelaksanaan UN diulang di beberapa wilayah yang terindikasi mendapatkan bocoran
soal. Tak ayal, ini membuat banyak orang heran dan bingung. Terutama di
kalangan pelajar sendiri. Penulis, yang juga ikut dalam UN tahun ini kiranya
perlu memberikan pandangan terhadap masalah ini.
UN menjadi ujian yang tak terpisahkan dari
dunia pendidikan dalam beberapa tahun belakangan. Sebagai penentu kelulusan, UN
menjadi ujian sakral yang dihadapi peserta didik untuk menyelesaikan studi dan
melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, karena posisinya yang
menentukan kelulusan siswa, pada akhirnya banyak siswa yang merasa tidak mampu
pun mencari cara lain yang tak halal, mencari kunci jawaban. Parahnya lagi,
pihak sekolah pun yang tak ingin malu melihat siswanya ada yang tidak lulus,
justru membiarkan hal ini terjadi. Berangkat dari hal ini, pada UN tahun ini, Mendikbud
Anies Baswedan menyatakan UN tidak mempengaruhi kelulusan siswa dan hanya akan
menjadi bahan pemetaan sekolah.
Seharusnya, dengan dikembalikannya penentuan
kelulusan siswa ke sekolah masing-masing, membuat siswa tak lagi harus tertekan
dalam melaksanakan UN. Sehingga siswa dapat menilai kemampuannya secara jujur
terhadap hasil pembelajarannya selama di jenjang SMA. Namun, yang terjadi
justru tetap saja banyak siswa yang mencari kunci jawaban. Dan yang parahnya
lagi, naskah soal pun dibocorkan oleh oknum pihak percetakan dan disebar di
internet.
Sebenarnya, beredarnya kunci jawaban UN telah
menjadi hal yang lumrah dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kini menjadi
menghebohkan karena, tujuan UN tahun ini yakni untuk mengetahui indeks
kejujuran sekolah menjadikannya sia-sia. Kecenderungan siswa untuk mendapatkan
nilai tinggi membuatnya lupa arah. Mereka pun rela merogoh kantung hingga 250
ribu hanya untuk kunci jawaban. Pengorbanan belajar menjadi hancur oleh
beberapa lembaran uang.
Mengapa siswa tak ingin jujur? Ada beberapa
alasan. Pertama, ia tak yakin dengan kemampuannya sendiri. Seorang siswa yang
tidak berprestasi secara akademik di sekolahnya akan cenderung tidak percaya
diri dengan apa yang ia kerjakan. Akhirnya ia mencari kunci jawaban hanya demi
bisa lulus. Dan, ketika kini UN tak lagi menjadi penentu kelulusan, masalah ini
harusnya sudah dapat terselesaikan.
Kedua, materi pembelajaran yang terlalu
kompleks. Ini yang menjadi masalah bagi sebagian besar peserta UN termasuk
penulis. Kompleksitas soal UN yang diujikan setiap tahunnya selalu meningkat. Sedangkan,
di beberapa sekolah ada guru yang tidak rajin memberikan pengajaran di kelas. Sehingga,
banyak siswa yang tidak memahami materi yang pada akhirnya menjadi tidak siap
melaksanakan UN. Hal ini yang menjadi keprihatinan. Masih ada saja guru yang
tak memiliki kesadaran pengabdian untuk mencerdaskan putra-putri bangsa. Bahkan,
justru membiarkan siswanya mencari kunci jawaban agar nilai tetap memuaskan. Pola
pikir guru yang hanya “numpang lewat kelas” tapi tak memberikan pemahaman harus
diubah. Pengabdian harus lebih diutamakan dibandingkan hanya mengejar perut
semata.
Ketiga, kemalasan. Inilah yang menjadi alasan
utama bagi para siswa. Rasa malas para siswa menjadikan mereka tak mau belajar.
Pola pikir untuk apa belajar kalau nanti kunci jawaban bisa bayar harus diubah.
perjuangan untuk kesuksesan harus dibangun dari pembelajaran dengan kesabaran
selama beberapa tahun. Toh, pada akhirnya ketika ia memakai kunci jawaban, tak
akan ada kepuasan. Hanya rasa senang lulus saja. Namun, batin pasti tak nyaman.
Lantas, harus bagaimana?
1.
Tanamkan kejujuran sebagai landasan.
Kejujuran merupakan
kunci keberkahan. Siswa jujur Insya Allah menjadi orang yang terpuji di
kemudian hari. Jujur pulalah yang akan memberikan kepuasan hati, jiwa, dan
pikiran. Berikanlah kebahagiaan kepada orang tua dan guru dari hasil kejujuran.
Mental penyontek harus diubah menjadi mental pejuang. Bukan lagi malas, namun
usaha keras.
2.
Tingkatkan perjuangan.
Siswa harus
ditanamkan nilai-nilai perjuangan untuk menuju suatu tujuan. Jika tujuannya
adalah lulus dengan hasil yang terbaik, maka perjuangan yang diberikan harus
yang lebih baik pula. Karena, tak mungkin seseorang yang berjuang
sungguh-sungguh tak Allah mudahkan baginya jalan.
3.
Teruskan doa sebagai permohonan.
Ketika belajar telah
maksimal, jujur pun telah diterapkan, maka doa menjadi senjata pamungkas. Semua
yang telah dikerjakan, Allahlah penentu jalan. Maka, tak mungkin rasanya kita
berusaha tanpa ada pertolongan Tuhan.
Akhirnya, UN telah
dilaksanakan. Meski pemerintah menimbang perlu adanya UN ulangan, penulis
merasa itu hanya akan mubazir saja. Pelajar tentu akan merasa keberatan karena
akan menambah beban belajar lagi
baginya. Guru pun tak setuju karena tak semua siswa melakukan kecurangan. Jika pemerintah
berdalih hanya akan diulang di sekolah yang diduga melakukan kecurangan, apakah
ada sekolah yang terima diduga curang, dan apa dasar dari dugaan tersebut? Ini akan
memberikan rasa ketidakadilan dan dikhawatirkan menimbulkan praduga yang tak
berdasar. Penulis pun tak setuju. Karena, lebih baik memperbaiki mental para
siswa dan sistem pendidikan yang berjalan dibandingkan harus mengulang ujian
yang hanya menambahh beban pemerintah, sekolah, dan terutama siswa. Semoga ini
bisa jadi pertimbangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih | شكرا جزيلا | Thank You | Merci Beaucoup