Kondisi pendidikan negeri ini
cukup memprihatinkan. Adopsi sistem pendidikan Barat yang menitikberatkan pada
penguasaan materi berbagai mata pelajaran tak bisa memperbaiki kondisi siswa. Justru
semakin memberatkan. Bahkan, karena pengajaran agama dipinggirkan, bahkan
dianggap kuno, mengakibatkan degradasi moral semakin menjadi-jadi. Kini,
tampaknya kita perlu melihat lagi sistem pendidikan kita di masa sebelum
terbentuknya sekolah-sekolah formal seperti masa kini.
Pada masa lalu, pendidikan di
Nusantara tercirikan dengan adanya pesantren yang digagas oleh Wali Songo. Di pesantren,
para santri rela menempuh jarak yang jauh demi menempa diri. Selain itu, ia
akan jauh dari sanak saudara, bahkan untuk bertahun-tahun. Inilah yang
mengakibatkan mereka memiliki jiwa kemandirian. Selain itu, mereka akan tinggal
di asrama sebagai tempat tinggal bersama yang menumbuhkan jiwa gotong-royong
dan kebersamaan. Mereka pun dilatih kedisiplinan karena asatidz atau para guru akan mendidik mereka dengan keras. Inilah yang
dibutuhkan kini.
Kini, pendidikan di Indonesia
terkonsentrasi di sekolah-sekolah. Siswa diwajibkan belajar dari pagi hingga
sore, bahkan harus pula ikut berbagai macam bimbel dan ekskul hingga malam. Ini
membuat siswa menjadi terbebani dan tidak menikmati sekolah karena sekolah
hanya sekadar penggugur kewajiban semata. Selain itu, pelajaran yang dibebankan
oleh kurikulum lebih menitikberatkan sebuah hasil nilai yang tinggi. Sehingga,
siswa dan guru tak lagi mementingkan proses dalam mendapatkan ilmu. Maka tak
heran jika banyak yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan nilai yang
tinggi. Kondisi lainnya adalah biaya sekolah semakin tinggi yang membuat semakin
sulitnya pendidikan dijangkau oleh semua kalangan. Atau bahkan membuat siswa
memiliki perasaan ‘guru dibayar murid’ yang menyebabkan siswa menjadi rendah
rasa hormatnya kepada guru. Inilah yang terjadi di sebagian besar sekolah kini.
Kondisi ini sepertinya membuat
kita harus mengevaluasi lagi sistem pendidikan di Indonesia. Memang berbagai
pelajaran seperti matematika, fisika, kimia, sejarah, geografi, ekonomi dan
sebagainya penting. Namun, yang tak kalah penting adalah pengajaran agama yang
menjadi landasan moral siswa untuk menggunakan ilmunya. Sudah sepatutnya untuk
mengombinasikan berbagai sains modern dengan agama. Sehingga ada hubungan
timbal balik berupa meningkatnya iman karena ilmu dan bergunanya ilmu karena
iman. Inilah esensi dari sebuah pendidikan.
Sebagai contoh saat mempelajari pelajaran
eksakta untuk mengasah kemampuan analisis murid sehingga menjadi tanggap dengan
keadaan yang terjadi di lingkungannya. Mempelajari ilmu sosial sehingga murid
menjadi paham atas keadaan masyarakat dan menjadi cerdas dalam bersikap. Mempelajari
bahasa, sastra, dan budaya sehingga mampu berbicara yang baik, logis, dan
cerdas serta berguna tiap tutur katanya. Semua harus dipadukan dengan moralitas
keagamaan agar menguatkan keilmuan dan kimanan. Inilah yang seharusnya
dilakukan.
Tak hanya menjadi orang yang cerdas berpikir,
manusia Indonesia harunya memiliki cerdas bersikap. Cara yang efektif adalah
dengan sekolah berasrama. Siswa dilatih disiplin dengan melakukan segala
sesuatu di waktu yang telah ditentukan. Mereka pun belajar hidup mandiri karena
tak bertemu dengan orang tua. Mereka pun akan menjadi siswa yang memiliki
toleransi, tenggang rasa, kepedulian, hingga semangat gotong-royong karena
hidup bersama dengan teman. Murid juga lebih mudah belajar pelajaran sekolah
karena mereka lebih dapat berkonsentrasi dan tidak membuang waktu dengan hal
yang tak berguna. Inilah kelebihan sekolah yang menempatkan muridnya di asrama.
Maka, sudah sepatutnya kita
menengok sistem sekolah berasrama ini dan tidak lagi memandangnya sebelah mata.
Karena, membangun pribadi yang baik tak bisa jika hanya dibebani dengan
segudang ilmu, dibekali dengan agama, tapi harus dibiasakan dalam kehidupan
sehari-hari. Sekolah agama berasrama menjawab berbagai kebutuhan ini.
Membentuk kehidupan paripurna manusia Indonesia harus dilakukan. Tak cukup
dengan sains eksakta dan sosial, agama harus pula diajarkan. Namun, tak cukup
dengan pengetahuan saja tanpa pembiasaan. Sekolah agama berasrama akan
membentuk pribadi yang kuat iman, cerdas ilmu, dan unggul dalam perilaku. Manusia
yang kuat iman, cerdas ilmu, dan unggul dalam perilaku itulah manusia paripurna
yang akan membangun bangsa dengan sempurna.
Allah sebagai Maha Pemilik Ilmu menjadi tujuan
Indonesia sebagai tanah air menjadi semangat perjuangan
Agama, sains, dan pembiasaan sebagai cara mencapai kesejahteraan
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
2 Mei 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih | شكرا جزيلا | Thank You | Merci Beaucoup