Kamis, 23 Juli 2015

Sang Penyejuk Hati

Apa pandangan kita tentang seorang anak? Lucu, menggemaskan, senang bermain, ceria, dan lain sebagainya. Itulah kondisi seorang anak yang ideal. Tumbuh dan berkembang di lingkungan yang sehat dan menjadi anak yang soleh dan cerdas. Tapi, ketika kita melihat kondisi akhir akhir ini, tentu sedih. Maka dari itu, mari kita lihat lagi kondisi anak-anak Indonesia di Hari Anak Nasional 2015 ini.
Anak merupakan harapan orang tua. Tapi kini, banyak anak yang justru ditelantarkan oleh orang tuanya. Masih segar di ingatan kita, kasus Engeline yang menyita perhatian kita sebulan terakhir. Seorang anak angkat yang tak diasuh dengan tak layak. Hingga akhirnya ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan. Kini, justru kita bingung dan saling menyalahkan. Tak hanya kasus Engeline, masih sering pula kita lihat di berita anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Entah karena ketidakpunyaan harta atau ketidakpedulian orang tua. Lantas ketika anak ditelantarkan, bagaimana ia mampu membangun mimpi bagi masa depan?
Anak merupakan harapan masa depan bangsa. Tapi kini, masalah pendidikan anak masih belum mampu mencerdaskan. Anak masih dididik untuk mengejar nilai akademik, belum mendalami nilai-nilai moral. Maka, ketika kemarin Ridwan Kamil, walikota Bandung kesal dengan perilaku pengendara motor yang merupakan seorang sarjan yang melawan arus di jalan raya, patut dipertanyakan ketaatan pada hukum. Sampai sejauh mana pendidikan kita mampu menyadarkan seseorang menjadi manusia yang taat pada hukum. Karena, bagaimana bisa membangun bangsa yang besar jika menaati hukum saja sulit?
Anak merupakan tumpuan untuk memimpin negara. Tapi kini, masih banyak anak yang tak lagi menaruh sikap hormat. Banyak yang beralasan, anak harus dibebaskan dalam hal apapun. Jika bebas dalam memilih, itu masih maklum. Tapi jika bebas dalam bersikap, akan sulit rasanya ketika ia harus menaruh hormat pada orang lain. Ketika banyak anak yang tak lagi menaruh hormat pada orang lain, jangan harap keributan di jalanan, tawuran di sekitar sekolahan, dan tutur kata yang tak bijak akan hilang dari generasi muda. Maka, masihkah kita akan menjadi orang yang tak peduli dengan sikap calon pemimpin yang tak menaruh hormat?
Anak merupakan calon anggota masyarakat. Tapi kini, di tengah kondisi masyarakat yang tak sehat, banyak pembunuhan, pelacuran, bahkan sedikit orang yang malu untuk merokok di depan anak. Ketika seorang anak tumbuh di lingkungan yang tak baik, sulit baginya untuk menjadi anak yang baik. Kita tentu masih ingat beberapa tahun yang lalu sempat ada kasus yang menghebohkan dunia saat jurnalis asing mengungkap seorang anak Indonesia yang kecanduan rokok hingga puluhan batang per hari. Bahkan sampai dijuluki The Baby Smokers. Ini tentu membuat kita prihatin. Begitu mudahnya sang anak meniru perilaku buruk masyarakat dan menjadi candu bagi dirinya. Jadi, masihkah kita mampu mengharap generasi yang sehat jika racun begitu mudah didapat?
Mengapa kondisi anak begitu penting? Karena, anak yang baru lahir ibarat sebuh kertas putih yang kosong, kemudian diwarnai oleh orangtuanya, dan dibentuk oleh lingkungannya. Sebagaimana yang telah disebutkan Nabi Muhammad Saw. ‘Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi’. Dari perkataan beliau, jelaslah tampak bahwa orang tua akan berperan besar bagi kehidupan anak.
Lantas, akan menjadi apakah seorang anak? Menjadi amanah ataukah menjadi fitnah? Menjadi penentram jiwa atau cobaan? Maka, bagaimana kita bersikap?
Sebagai  orang tua, kita asuh anak dengan baik dan biasakan kebiasaan baik dimulai dari rumah sendiri. Sehingga, saat sang anak ke luar menuju masyarakat, ia tertanam nilai kebaikan yang sudah dibiasakan sejak dini.
Sebagai guru, kita didik anak menjadi generasi yang cerdas, namun tetap soleh secara pribadi dan sosial. Menanamkan nilai-nilai kejujuran, kesantunan, dan keluhuran budi. Sehingga di masa depan, ia menjadi pemimpin yang budiman.
Sebagai masyarakat, kita tunjukkan sikap yang berbudaya, bernorma, dan berbudi. Sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Kini, di Hari Anak Nasional yang mengangkat tema ‘Wujudkan lingkungan dan keluarga ramah anak’ dengan salah satu sub tema ‘Bangun karakter anak Indonesia yang berkualitas dan berakhlak mulia’ kita upayakan tak sebatas sebuah tema di atas kertas. Namun, diimplementasikan dalam keseharian. Kita biasakan berprilaku baik, agar anak-anak menjadi baik dan sesuai dengan harapan. Seperti kata pepatah ‘siapa yang menanam benih, dia akan menuai hasil’. Jadi, ketika kita menanam kebaikan pada anak, Insya Allah, ia akan menjadi anak yang baik di kemudian hari.
Marilah sama sama kita berdoa dan berusaha, agar anak kita dapat menjadi pribadi yang membanggakan orang tua, memajukan agama, membangun nusa bangsa, dan berbudi kepada sesama. Karena anak, penyejuk hati kita semua.

رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
Ya Rabb kami, anugerahkanlah pada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang yang bertaqwa

Al Furqan | 74

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih | شكرا جزيلا | Thank You | Merci Beaucoup