Apa pandangan kita tentang seorang anak? Lucu,
menggemaskan, senang bermain, ceria, dan lain sebagainya. Itulah kondisi
seorang anak yang ideal. Tumbuh dan berkembang di lingkungan yang sehat dan
menjadi anak yang soleh dan cerdas. Tapi, ketika kita melihat kondisi akhir
akhir ini, tentu sedih. Maka dari itu, mari kita lihat lagi kondisi anak-anak
Indonesia di Hari Anak Nasional 2015 ini.
Anak merupakan harapan orang tua. Tapi kini,
banyak anak yang justru ditelantarkan oleh orang tuanya. Masih segar di ingatan
kita, kasus Engeline yang menyita perhatian kita sebulan terakhir. Seorang anak
angkat yang tak diasuh dengan tak layak. Hingga akhirnya ditemukan dengan
kondisi yang mengenaskan. Kini, justru kita bingung dan saling menyalahkan. Tak
hanya kasus Engeline, masih sering pula kita lihat di berita anak yang
ditelantarkan oleh orang tuanya. Entah karena ketidakpunyaan harta atau
ketidakpedulian orang tua. Lantas ketika anak ditelantarkan, bagaimana ia mampu
membangun mimpi bagi masa depan?
Anak merupakan harapan masa depan bangsa. Tapi kini,
masalah pendidikan anak masih belum mampu mencerdaskan. Anak masih dididik
untuk mengejar nilai akademik, belum mendalami nilai-nilai moral. Maka, ketika
kemarin Ridwan Kamil, walikota Bandung kesal dengan perilaku pengendara motor
yang merupakan seorang sarjan yang melawan arus di jalan raya, patut
dipertanyakan ketaatan pada hukum. Sampai sejauh mana pendidikan kita mampu
menyadarkan seseorang menjadi manusia yang taat pada hukum. Karena, bagaimana
bisa membangun bangsa yang besar jika menaati hukum saja sulit?
Anak merupakan tumpuan untuk memimpin negara. Tapi
kini, masih banyak anak yang tak lagi menaruh sikap hormat. Banyak yang
beralasan, anak harus dibebaskan dalam hal apapun. Jika bebas dalam memilih,
itu masih maklum. Tapi jika bebas dalam bersikap, akan sulit rasanya ketika ia
harus menaruh hormat pada orang lain. Ketika banyak anak yang tak lagi menaruh
hormat pada orang lain, jangan harap keributan di jalanan, tawuran di sekitar
sekolahan, dan tutur kata yang tak bijak akan hilang dari generasi muda. Maka,
masihkah kita akan menjadi orang yang tak peduli dengan sikap calon pemimpin
yang tak menaruh hormat?
Anak merupakan calon anggota masyarakat. Tapi
kini, di tengah kondisi masyarakat yang tak sehat, banyak pembunuhan,
pelacuran, bahkan sedikit orang yang malu untuk merokok di depan anak. Ketika seorang
anak tumbuh di lingkungan yang tak baik, sulit baginya untuk menjadi anak yang
baik. Kita tentu masih ingat beberapa tahun yang lalu sempat ada kasus yang
menghebohkan dunia saat jurnalis asing mengungkap seorang anak Indonesia yang
kecanduan rokok hingga puluhan batang per hari. Bahkan sampai dijuluki The
Baby Smokers. Ini tentu membuat kita prihatin. Begitu mudahnya sang anak
meniru perilaku buruk masyarakat dan menjadi candu bagi dirinya. Jadi, masihkah
kita mampu mengharap generasi yang sehat jika racun begitu mudah didapat?
Mengapa kondisi anak begitu penting? Karena,
anak yang baru lahir ibarat sebuh kertas putih yang kosong, kemudian diwarnai
oleh orangtuanya, dan dibentuk oleh lingkungannya. Sebagaimana yang telah
disebutkan Nabi Muhammad Saw. ‘Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah,
maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi’. Dari
perkataan beliau, jelaslah tampak bahwa orang tua akan berperan besar bagi
kehidupan anak.
Lantas, akan menjadi apakah seorang anak? Menjadi
amanah ataukah menjadi fitnah? Menjadi penentram jiwa atau cobaan? Maka, bagaimana
kita bersikap?
Sebagai orang tua, kita asuh anak dengan baik dan biasakan
kebiasaan baik dimulai dari rumah sendiri. Sehingga, saat sang anak ke luar
menuju masyarakat, ia tertanam nilai kebaikan yang sudah dibiasakan sejak dini.
Sebagai guru, kita didik anak menjadi generasi
yang cerdas, namun tetap soleh secara pribadi dan sosial. Menanamkan nilai-nilai
kejujuran, kesantunan, dan keluhuran budi. Sehingga di masa depan, ia menjadi
pemimpin yang budiman.
Sebagai masyarakat, kita tunjukkan sikap yang
berbudaya, bernorma, dan berbudi. Sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang
menjunjung tinggi nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Kini, di Hari Anak Nasional yang mengangkat
tema ‘Wujudkan lingkungan dan keluarga ramah anak’ dengan salah satu sub tema ‘Bangun
karakter anak Indonesia yang berkualitas dan berakhlak mulia’ kita upayakan tak
sebatas sebuah tema di atas kertas. Namun, diimplementasikan dalam keseharian. Kita
biasakan berprilaku baik, agar anak-anak menjadi baik dan sesuai dengan
harapan. Seperti kata pepatah ‘siapa yang menanam benih, dia akan menuai hasil’.
Jadi, ketika kita menanam kebaikan pada anak, Insya Allah, ia akan menjadi anak
yang baik di kemudian hari.
Marilah sama sama kita berdoa dan berusaha,
agar anak kita dapat menjadi pribadi yang membanggakan orang tua, memajukan
agama, membangun nusa bangsa, dan berbudi kepada sesama. Karena anak, penyejuk
hati kita semua.
رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ
أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
Ya Rabb kami, anugerahkanlah pada kami istri-istri
kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami
pemimpin bagi orang yang bertaqwa
Al Furqan | 74

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih | شكرا جزيلا | Thank You | Merci Beaucoup