Mengikuti perkembangan di Timur Tengah, awal
tahun ini kita dikejutkan dengan kabar pemutusan hubungan diplomatik antara
Arab Saudi dengan Iran. Kedua negara ini dapat diibaratkan sebagai miniatur AS
versus Russia di kawasan Timur Tengah. Konflik antara kedua negara ini terjadi
disebabkan oleh banyak hal. Mulai dari agama, ekonomi, politik, hingga pengaruh
kekuasaan di Timur Tengah dan dunia Islam.
Sebuah alasan besar terjadinya konflik ini
antara lain adalah perbedaan aliran agama antar kedua negara. Arab Saudi bermazhab
Sunni yang merupakan mayoritas mazhab umat Islam, di sisi lain Iran bermazhab
Syiah yang memiliki perbedaan mendasar dalam urusan aqidah dalam agama Islam. Tentunya
dengan perbedaan ini dapat membuat umat Islam secara tidak langsung akan pro
terhadap salah satunya. Konflik antarnegara ini bermula saat ‘Revolusi Iran
1979’ ketika Ayatollah Khomenei yang merupakan pimpinan Syiah Iran
menggulingkan Pahlevi, Pemimpin Iran saat itu yang bermazhab Sunni. Arab Saudi
sangat tidak setuju dengan perebutan itu. Hingga akhirnya pecah perang Iraq
versus Iran dengan Arab Saudi mendukung Iraq. Setelah itu, hubungan keduanya
cukup membaik pada periode tahun 2000-an. Kini, konflik kembali muncul akibat
Arab Saudi mengeksekusi ulama Syiah, Nimr al-Nimr.
Eksekusi ulama Syiah ini memancing kemarahan
rakyat Iran. Sehari setelah eksekusi, terjadi penyerangan terhadap kedutaan
besar Arab Saudi di Teheran. Akhirnya, Saudi memutus hubungan diplomatik dengan
Iran. Putusnya hubungan diplomatik ini diikuti oleh beberapa negara seperti
Qatar, Djibouti, dan lainnya. Hal ini dikarenakan mereka punya hubungan yang
erat dengan Arab Saudi. Di satu sisi, Saudi berpendapat bahwa eksekusi ini sah
dan patut karena Nimr al-Nimr dianggap membahayakan negara dan eksekusi ini
dilakukan di dalam negara Arab Saudi sendiri. Namun di sisi lainnya, Iran tidak
menoleransi eksekusi ini karena dianggap melecehkan Syiah dengan kematian salah
satu ulamanya.
Pertentangan antara Arab Saudi dan Iran
sebenarnya bukan hanya pada masalah ini saja. Di Timur Tengah, saat ini Arab
Saudi memimpin koalisi negara Islam yang tentunya dalam banyak konflik bertolak
belakang dengan Iran. Di Suriah, Arab Saudi mendukung untuk menurunkan
pemerintahan Syiah Bashar Al Assad, dan pemerintahan tersebut didukung oleh
Iran. Pada konflik di Yaman, Arab Saudi mendukung pemerintahan yang berkuasa,
sedangkan Iran mendukung kelompok pemberontak Syiah. Hal ini tentunya membuat
dunia Islam menjadi khawatir akan pengaruh Syiah Iran yang meluas sehingga
tidak heran, banyak negara Islam lainnya yang berada dalam posisi mendukung
Arab Saudi.
Perebutan pengaruh di Timur Tengah ini tidak
terlepas dari keinginan Iran dalam menyebarkan Syiah di Timur Tengah. Hal yang
amat ditentang oleh Muslim Sunni. Perbedaan yang mendasar di antara keduanya
membuat titik temu antar masalah ini hampir tidak mungkin terjadi. Sisa-sisa
sejarah kekuatan Imperium Persia mungkin juga menjadi semangat bagi Iran dalam
meluaskan pengaruhnya. Di sisi lain, Arab Saudi tentu akan mendapat dukungan
dari mayoritas muslim di dunia karena merepresentasikan sebagai Sunni.
Tak hanya masalah ideologi dan perebutan
pengaruh di Timur Tengah, konflik ini juga terjadi dalam ranah ekonomi. Arab
Saudi dan Iran merupakan dua negara kunci dalam perdagangan minyak global. Akibat
dari konflik ini saja, yang belum mengarah pada peperangan terbuka,
membuat harga minyak dunia naik. Sangat dikhawatirkan
jika konflik terjadi pada arah peperangan antarnegara, harga minyak dunia akan
melonjak drastis. Melonjaknya harga minyak ini tidak menutup kemungkinan akan
membawa konflik yang lebih lanjut. Apalagi, banyak negara yang memiliki
kepentingan bisnis minyak di Timur Tengah. China, Russia, dan tentunya Amerika
memiliki kepentingan dalam bisnis minyak dunia dan Timur Tengah.
Beberapa waktu lalu, Russia sempat menawarkan
bantuannya untuk menjadi penengah dalam konflik ini, namun kemudian ditentang
oleh Amerika. Tidak mengherankan, karena beberapa waktu lalu Russia sempat berkonflik
dengan Turki di Suriah. Hubungan kedua negara sempat memburuk hingga membuat
NATO ikut turut andil. Meski demikian, tidak sampai pada peperangan terbuka
antar kedua negara meski sempat terjadi penembakan pesawat Russia oleh militer
Turki. Hal ini ditakutkan dapat merembet pada
konflik kali ini karena Turki berada di belakang Arab Saudi.
Sebenarnya, konflik antara Saudi dan Iran ini
sangat disayangkan karena dapat mengaburkan konflik besar lain di Timur Tengah.
Konflik Israel-Palestina, konflik Suriah, dan perlawanan terhadap ISIS dapat
menjadi bias fokus karena adanya konflik antara Saudi dan Iran ini. Selain itu,
konflik ini juga dapat menimbulkan friksi di antara umat Islam karena kedua
negara ini merepresentasikan Sunni dan Syiah. Kekhawatiran lainnya jika konflik
ini tidak dihentikan dapat membuat terjadinya perang minyak di kedua negeri
petrodollar ini.
Sudah saatnya kini kedua negara yang berkonflik
mencoba meredakan kegentingan di Timur Tengah. Jangan sampai membawa peperangan
yang merugikan semua pihak. Lebih baik kini negara-negara di dunia dan Timur
Tengah pada khususnya menaruh perhatian untuk membebaskan Palestina dari
penjajahan Israel, juga memusnahkan ISIS yang telah mencoreng citra Islam dalam
beberapa tahun terakhir. Semoga perdamaian dapat tercipta di bumi ini.
sumber foto: valuewalk.com
-famajiid-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih | شكرا جزيلا | Thank You | Merci Beaucoup