Selasa, 22 Desember 2015

Israel Bebas Masuk ke Indonesia?














Menarik dengan apa yang baru saja saya baca di harian Republika hari ini. Di halaman pertama, tercantum berita ‘Fasilitas Bebas Visa Bagi Israel Disesalkan’. Berita ini cukup mengejutkan bagi saya, karena selama ini Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang paling konsisten menolak penjajahan Israel di bumi Palestina.

Senin, 05 Oktober 2015

TNI kuat, Indonesia berdaulat


Hari ini, Senin, 5 Oktober 2015 Tentara Nasional Indonesia (TNI) memasuki usia 70 tahun. Usia yang terbilang cukup matang bagi sebuah kesatuan militer negara. Kebanggaan sebagai sebuah kesatuan harus ditunjukkan melalui sebuah kualitas yang baik. Ini terbukti, dari koran Kompas yang baru saja penulis baca tadi, TNI kini telah menduduki peringkat ke-12 dunia.

Selasa, 11 Agustus 2015

Karya Tulis Ilmiah Perpusda Kabupaten Sukabumi Tahun 2014

karya tulis ilmiah dengan judul
PENUMBUHAN KESADARAN PELAJAR AKAN POTENSI SUMBER DAYA ALAM KABUPATEN SUKABUMI MELALUI PEMELAJARAN PAIKEM DI PERPUSTAKAAN

Kamis, 30 Juli 2015

Untuk Apa Belajar Agama?















Beberapa hari yang lalu, sempat membaca sebuah status. Isinya kurang lebih membandingkan kondisi di negara Indonesia dengan negara lain. Yang membuat menarik adalah ketika tertulis kurang lebih ‘Di negara lain saja yang tidak mengajarkan agama, mereka justru maju. Sedangkan di Indonesia yang belajar agama, korupsi marak terjadi, bahkan di kementerian agama’. Pernah juga mendengar ada yang berpikiran ‘Jangan ajarkan agama, karena agama membuat penganutnya menjadi fanatik. Sehingga, terjadilah terorisme yang mengganggu kehidupan beragama’. Ini tentu membuat kita, bangsa Indonesia yang agamais bingung. Sebenarnya, untuk apa belajar agama?
Yang pertama, seseorang belajar agama karena kebutuhan, bukan sekadar kewajiban. Ya, setiap manusia yang beragama butuh untuk mempelajari agama. Karena hanya dengan mempelajarinya, ia akan dapat memahami, mempraktikkan, hingga mencintai agamanya dalam kehidupannya. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki rumah, tentu harus mempelajari rumahnya. Bagaimana kondisi fisiknya, pembagian ruangnya, sirkulasi udara, pencahayaan, dan yang lainnya. Sehingga, ia tak sekadar memiliki rumah, tapi ia akan paham dengan kondisi rumahnya dan tentunya akan mencintai rumahnya.
Berikutnya, dalam agama, banyak sekali hal yang harus dipahami. Karena, setiap agama itu berbeda. Beda sembahan, ritual ibadah, hingga keyakinan. Sehingga, kita bisa memberikan pembeda antara agama yang kita anut dengan agama lain. Dan yang terpenting adalah, tidak mencampuradukkan ajaran antar agama yang berbeda. Sebagai contoh, ketika seseorang memiliki mobil BMW, tentu ia harus paham bagaimana cara mengendarai, merawat, hingga suku cadang mobilnya. Meski mobil BMW dan Toyota adalah sama-sama mobil, tentu suku cadang, mesin, bahkan performanya berbeda. Tak bisa dipaksakan mobil BMW menggunakan suku cadang Toyota, begitu pula sebaiknya. Sehingga, dengan memahami karakteristik mobilnya, ia akan merawat mobilnya sesuai dengan yang seharusnya.
Bahkan, ada yang berkata ‘semua agama itu kan sama. Sama sama mengajarkan kebaikan. Jadi, kenapa harus membeda-bedakan agama?’. Kita lihat lagi kasus mobil tadi. Memang, mobil BMW, Toyota, dan yang lainnya sama-sama mobil. Tapi tetap saja beda bukan? Mulai dari pabriknya, mesinnya, komponen suku  cadangnya, hingga cara merawatnya. Karena berbeda itulah, mengapa kebutuhan setiap  mobilnya berbeda. Sehingga, tak bisa disamakan antara mobil BMW dengan Toyota, dan dengan mobil lainnya yang memiliki kekhususan sendiri. Demikian pula dalam beragama, meskipun agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan yang lainnya sama-sama agama, tetap saja Tuhannya, pembawa ajarannya, ajarannya, hingga aturannya berbeda. Sehingga, tak bisa disamakan antara agama Islam dengan Kristen, dan dengan agama lainnya.
Ada pula yang mengkritik mengapa ketika seseorang yang beragama, tetap saja ia mendakwahi orang lain yang berbeda agama untuk ikut dengan agamanya. Apakah berdakwah salah? Tentu tidak. Karena, kewajiban seseorang untuk berdakwah bukan tanpa alasan. Melainkan, agar orang lain terbuka pikirannya dan mengenal agama lain. Sehingga, ia akan memilih jika agamanya tetap lebih baik, tak akan ia berpindah. Namun, jika agama orang yang mendakwahinya lebih baik, ia akan berpindah tanpa paksaan, melainkan dari kesadaran. Yang harus diperbaiki adalah metode dakwahnya. Dakwah yang tanpa paksaan, namun lebih menekankan dakwah yang penuh rahmat. Yakni, dengan memberikan keteladanan. Memang, tak ada paksaan dalam beragama. Tapi, sudah jelas bedanya antara jalan yang menunjukkan kebenaran dengan jalan yang menuju kesesatan.
Kemudian, ada pula yang berpikir ‘untuk apa belajar agama jika masih korupsi, masih menindas, masih menzolimi?’. Perlu dipahami bahwa, ketika seseorang bertindak salah, misalnya melakukan korupsi, suap, merampok, dan kejahatan lain, bukanlah salah agamanya, bukan pula kesalahannya karena belajar agama, apalagi kesalahan orang yang mengajarkan agama kepadanya. Tapi, itu adalah kesalahan orang itu sendiri. Sebagai contoh, seorang anak, ketika ia belum bisa berjalan, tentu akan diajari cara berjalan oleh orang tuanya. Tujuannya pun baik, agar sang anak dapat beraktivitas dengan mudah, juga nanti ia akan berjalan untuk belajar ke sekolah. Tapi, ketika sang anak beranjak besar dan mampu berjalan, ia berjalan tidak sesuai dengan harapan orang tuanya. Sang anak tidak ke sekolah. Ia justru bolos sekolah, dan justru pergi menonton ke bioskop. Apakah disalahkan jika ia mampu berjalan? Ataukah disalahkan orang tuanya yang mengajarkan cara berjalan? Tentu tidak. Itu adalah kesalahan sang anak dalam bergaul hingga ia masuk ke dalam pergaulan yang tidak baik. Bukan kesalahan kemampuannya untuk berjalan, apalagi orang tuanya yang mengajarkan cara berjalan.
Ada pula orang yang berkata, ajaran agama ada yang berbahaya. Apalagi Islam yang mengajak untuk berjihad, ini akan menjadi momok yang mengerikan bagi banyak orang. Satu hal yang perlu kita pahami bersama. Banyak orang anti dengan kata jihad karena menyamakan jihad dengan berperang. Penyamaan arti ini kurang tepat. Jihad memiliki arti bersungguh-sungguh, berjuang, dan bertekad kuat untuk meraih tujuan yang mulia. Berbeda dengan perang yang dalam bahasa arab adalah Qital. Memang, berperang adalah bagian dari jihad. Tapi akan terlalu sempit jika menganggap jihad hanya berperang. Jadi, tak ada yang salah dari jihad. Karena, seorang anak yang bersekolah dengan giat untuk meraih cita-cita dan meraih ridho orang tuanya, adalah tindakan berjihad. Orang tua yang bersungguh-sungguh bekerja agar memenuhi nafkah keluarganya dengan cara yang halal, adalah tindakan berjihad. Seorang pejabat yang bekerja keras dengan ikhlas untuk melayani rakyatnya, adalah tindakan berjihad. Hingga seorang muslim yang membela islam di manapun dan kapanpun meski harus mengorbankan jiwanya, itulah jihad tertinggi. Jadi, jika kita masih menilai negatif orang yang belajar agama dan menjadi seseorang yang berjihad (mujahid) adalah kesalahpahaman kita terhadap arti jihad itu sendiri. Bukan kesalahan agama yang mengajarkan untuk berjihad.
Mengapa pula di masyarakat Indonesia masih sering terjadi konflik antaragama? Bukankah ini berarti kita tak perlu membawa agama ke dalam kehidupan sehari-hari? Ini justru pemahaman yang keliru. Dengan membawa agama ke dalam kehidupan sehari-hari, sikap toleran akan tumbuh. Karena, sikap saling menghormati dan menghargai antar umat beragama adalah cermin seseorang yang taat beragama. Bukankah sikap kami sudah jelas? Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
Lalu, mengapa belajar agama harus dipaksa dengan memasukkannya ke sekolah? Kenapa tidak dipelajari dari kesadaran sendiri? Toh, jika nanti ia butuh, ia akan mempelajarinya. Berpikir seperti ini kuranglah bijak. Sebagai gambaran, untuk apa seorang anak di sekolah diajarkan pelajaran seni? Toh tidak semua anak bisa menjadi seniman. Karena seni yang diajarkan di sekolah adalah dasar. Ketika ia ingin mendalaminya, ia bisa belajar langsung ke ahlinya. Begitu pula dengan agama. Meski tak semua anak akan menjadi orang yang ahli dalam agama, ia tetap memiliki dasar dalam menjalani agamanya dari pelajaran di sekolahnya. Sehingga, jika ia ingin mendalami lebih lanjut, ia dapat mendatangi agamawan untuk memperoleh ilmu yang lebih.
Sesama umat beragama harus memiliki sikap toleransi. Toleransi dalam arti menghormati, tidak mencampuri, namun tetap mendakwahi, tanpa memaksa. Tapi, toleransi tidak akan diraih jika kita tidak memahami agama kita sendiri. Dan pemahaman akan agama hanya akan dapat dicapai jika kita mempelajarinya. Dengan pemahaman yang baik dalam beragama, seseorang akan bertindak dengan baik sesuai dengan agamanya. Namun, ketika ada seseorang yang beragama melakukan kesalahan, bukanlah salah agamanya. Melainkan kesalahannya dalam mempraktikkan agama yang disebabkan ketidakpahaman dalam beragama sebagai akibat dari keengganan untuk mempelajari agamanya.
Maka, untuk apa belajar agama? Jawabannya adalah agar kita paham dengan agama, sehingga bisa beragama dengan baik. Karena jika kita bisa beragama dengan baik, kita akan mampu menjadi manusia yang baik. Hingga kita memperoleh kebaikan tak hanya untuk saat ini, namun juga meraih tempat terbaik di hari esok.


خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Sebaik baik kalian ialah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya

Hadis Riwayat Bukhari

Kamis, 23 Juli 2015

Sang Penyejuk Hati

Apa pandangan kita tentang seorang anak? Lucu, menggemaskan, senang bermain, ceria, dan lain sebagainya. Itulah kondisi seorang anak yang ideal. Tumbuh dan berkembang di lingkungan yang sehat dan menjadi anak yang soleh dan cerdas. Tapi, ketika kita melihat kondisi akhir akhir ini, tentu sedih. Maka dari itu, mari kita lihat lagi kondisi anak-anak Indonesia di Hari Anak Nasional 2015 ini.
Anak merupakan harapan orang tua. Tapi kini, banyak anak yang justru ditelantarkan oleh orang tuanya. Masih segar di ingatan kita, kasus Engeline yang menyita perhatian kita sebulan terakhir. Seorang anak angkat yang tak diasuh dengan tak layak. Hingga akhirnya ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan. Kini, justru kita bingung dan saling menyalahkan. Tak hanya kasus Engeline, masih sering pula kita lihat di berita anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Entah karena ketidakpunyaan harta atau ketidakpedulian orang tua. Lantas ketika anak ditelantarkan, bagaimana ia mampu membangun mimpi bagi masa depan?
Anak merupakan harapan masa depan bangsa. Tapi kini, masalah pendidikan anak masih belum mampu mencerdaskan. Anak masih dididik untuk mengejar nilai akademik, belum mendalami nilai-nilai moral. Maka, ketika kemarin Ridwan Kamil, walikota Bandung kesal dengan perilaku pengendara motor yang merupakan seorang sarjan yang melawan arus di jalan raya, patut dipertanyakan ketaatan pada hukum. Sampai sejauh mana pendidikan kita mampu menyadarkan seseorang menjadi manusia yang taat pada hukum. Karena, bagaimana bisa membangun bangsa yang besar jika menaati hukum saja sulit?
Anak merupakan tumpuan untuk memimpin negara. Tapi kini, masih banyak anak yang tak lagi menaruh sikap hormat. Banyak yang beralasan, anak harus dibebaskan dalam hal apapun. Jika bebas dalam memilih, itu masih maklum. Tapi jika bebas dalam bersikap, akan sulit rasanya ketika ia harus menaruh hormat pada orang lain. Ketika banyak anak yang tak lagi menaruh hormat pada orang lain, jangan harap keributan di jalanan, tawuran di sekitar sekolahan, dan tutur kata yang tak bijak akan hilang dari generasi muda. Maka, masihkah kita akan menjadi orang yang tak peduli dengan sikap calon pemimpin yang tak menaruh hormat?
Anak merupakan calon anggota masyarakat. Tapi kini, di tengah kondisi masyarakat yang tak sehat, banyak pembunuhan, pelacuran, bahkan sedikit orang yang malu untuk merokok di depan anak. Ketika seorang anak tumbuh di lingkungan yang tak baik, sulit baginya untuk menjadi anak yang baik. Kita tentu masih ingat beberapa tahun yang lalu sempat ada kasus yang menghebohkan dunia saat jurnalis asing mengungkap seorang anak Indonesia yang kecanduan rokok hingga puluhan batang per hari. Bahkan sampai dijuluki The Baby Smokers. Ini tentu membuat kita prihatin. Begitu mudahnya sang anak meniru perilaku buruk masyarakat dan menjadi candu bagi dirinya. Jadi, masihkah kita mampu mengharap generasi yang sehat jika racun begitu mudah didapat?
Mengapa kondisi anak begitu penting? Karena, anak yang baru lahir ibarat sebuh kertas putih yang kosong, kemudian diwarnai oleh orangtuanya, dan dibentuk oleh lingkungannya. Sebagaimana yang telah disebutkan Nabi Muhammad Saw. ‘Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi’. Dari perkataan beliau, jelaslah tampak bahwa orang tua akan berperan besar bagi kehidupan anak.
Lantas, akan menjadi apakah seorang anak? Menjadi amanah ataukah menjadi fitnah? Menjadi penentram jiwa atau cobaan? Maka, bagaimana kita bersikap?
Sebagai  orang tua, kita asuh anak dengan baik dan biasakan kebiasaan baik dimulai dari rumah sendiri. Sehingga, saat sang anak ke luar menuju masyarakat, ia tertanam nilai kebaikan yang sudah dibiasakan sejak dini.
Sebagai guru, kita didik anak menjadi generasi yang cerdas, namun tetap soleh secara pribadi dan sosial. Menanamkan nilai-nilai kejujuran, kesantunan, dan keluhuran budi. Sehingga di masa depan, ia menjadi pemimpin yang budiman.
Sebagai masyarakat, kita tunjukkan sikap yang berbudaya, bernorma, dan berbudi. Sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Kini, di Hari Anak Nasional yang mengangkat tema ‘Wujudkan lingkungan dan keluarga ramah anak’ dengan salah satu sub tema ‘Bangun karakter anak Indonesia yang berkualitas dan berakhlak mulia’ kita upayakan tak sebatas sebuah tema di atas kertas. Namun, diimplementasikan dalam keseharian. Kita biasakan berprilaku baik, agar anak-anak menjadi baik dan sesuai dengan harapan. Seperti kata pepatah ‘siapa yang menanam benih, dia akan menuai hasil’. Jadi, ketika kita menanam kebaikan pada anak, Insya Allah, ia akan menjadi anak yang baik di kemudian hari.
Marilah sama sama kita berdoa dan berusaha, agar anak kita dapat menjadi pribadi yang membanggakan orang tua, memajukan agama, membangun nusa bangsa, dan berbudi kepada sesama. Karena anak, penyejuk hati kita semua.

رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
Ya Rabb kami, anugerahkanlah pada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang yang bertaqwa

Al Furqan | 74

Senin, 29 Juni 2015

Rainbow? No!

Amerika Serikat kembali membuat heboh dunia. Bukan dengan penemuan teknologinya ataupun dengan ekspansi militernya, namun keputusan Supreme Court (Mahkamah Agung) pada 26 Juni silamlah yang membuat heboh. Amerika melegalkan pernikahan sesama jenis bagi para LGBT (Lesbian, gay, Biseksual, dan Transgender). Itulah pemicu kehebohannya.
Gerakan Perjuangan Hak Gay Amerika atau yang dikenal sebagai American Gay Rights Movement sudah dimulai dari waktu lama. Dikutip dari situs infoplease.com, para aktivis di negeri itu telah memulainya sejak tahun 1924. Dengan pendirian The Society for Human Rights in Chicago pada tahun itu sebagai organisasi pertama yang memperjuangkan hak tersebut. Hingga pada tahun-tahun berikutnya beberapa negara bagian memulai untuk melegalkan pernikahan sesama jenis. Seperti pada tahun 2004, Massachusets melegalkan pernikahan sesama jenis. Pada tahun 2014, sudah 35 negara bagian yang melegalkannya.  
Kemenangan besar bagi para LGBT setelah pelegalan yang dilakukan oleh Mahkamah Agung di Amerika. Mereka pun berkampanye dengan penggunaan simbol pelangi. Beberapa tokoh dan media massa besar Amerika pun sudah menyatakan dukungannya. Hillary Clinton, calon presiden yang akan bertarung tahun depan mendukung secara terbuka di akun twitter miliknya, @hillaryclinton dengan menampilkan foto profil bertuliskan History dengan warna pelangi. Media seperti Huffington Post, VH1, Youtube, Twitter, dan lainnya pun melakukan hal yang sama di akun twitter resminya. Ini menunjukkan dukungan besar bagi LGBT di Amerika.
Para pendukung LGBT melandaskan dukungannya terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Yakni hak setiap orang untuk menyatakan orientasi seksualnya kepada siapapun yang disukainya tanpa boleh ada batasan dalam jenis kelamin. Ini dipandang sesuai dengan kultur Amerika yang menyatakan kebebasan individu di segala aspek kehidupan atau liberal. Sehingga, LGBT pun memiliki hak yang sama untuk dapat melangsungkan pernikahan.
Pengaruh besar Amerika patut diwaspadai. Karena, di Indonesia yang bermasyarakat religius dan tidak buta oleh kepentingan HAM haruslah menolak jika ini menyebar di Indonesia. Jangan sampai kita terbutakan oleh istilah HAM hingga kita melanggar sesuatu yang telah digariskan. Apalagi, kita mendukung gerakan yang sedang mewabah di dunia tersebut. Mari kita waspada diri dan menjaga negeri.
Sudah harus tertanam di diri kita bahwa, sudah merupakan kodrat dari Allah bahwa laki-laki akan berpasangan dengan perempuan. Tak hanya manusia, hewan hanya berpasangan jantan dengan betina, tumbuhan pun hanya berpasangan putik dan benang sari. Dan ini merupakan suatu hukum alam yang apabila dilanggar, dampaknya akan besar. Karena, perkawinan dan pernikahan memiliki tujuan utama yakni untuk melanjutkan keturunan.
Dalam Undang-Undang perkawinan no. 1 tahun 1974, disebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sudah jelas bahwa di Indonesia tidak mengakomodasi kepentingan orang yang ingin melegalkan pernikahan sesama jenis. Karena perkawinan hanya antara seorang pria dan wanita. Hingga kita berharap, semoga undang-undang perkawinan ini tidak direvisi untuk tetap menjamin Ketuhanan yang dianut masyarakat Indonesia.
Marilah kita menengok lagi kisah kaum Sodom, yang diazab dan dibinasakan karena menikah dengan sesama jenis. Seharusnya ini bisa kita ambil hikmahnya agar tak menantang kodrat yang telah digariskan. Karena, hanya kesengsaraan yang akan didapat.
Allah Swt. telah berfirman dalam surat Asy Syu’ara ayat 165 – 166
أَتَأْ تُوْنَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِيْنَ   وَتَذَرُوْنَ مَاخَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌُ عٰدُوْنَ
                Artinya: Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (untuk berbuat homoseksual)? Dan kamu tinggalkan (perempuan) yang telah diciptakan Tuhanmu untuk menjadi istri-istrimu? Bahkan kalian menjadi kaum yang melampaui batas.
                Dari Ayat tersebut, Allah menanyakan kepada kaum Sodom yang bertindak homoseksual. Mengapa ia tetap melakukan hal tersebut sedangkan sudah diberikan sesuatu  yang halal bagi mereka? Hingga akhirnya orang yang tetap melanggar kodratnya sebagai manusia normal dan secara sukarela menjadi yang abnormal dengan menikahi sesama jenis.
                Mari kita pelajari lagi diri kita, dari sisi agama sebagai landasan utama, dari sisi ilmu pengetahuan seperti biologi, sosiologi, dan lainnya sebagai pendukung. Karena, secara biologis pun tak hanya manusia, hewan dan tumbuhan pun sudah berpasangan dengan lawan jenis. Jangan sampai kita menjadi manusia yang lebih hina dari hewan hanya karena mengikuti nafsu semata. Secara sosial pun, kita akan menjadi manusia yang normal apabila menikahi pasangan lawan jenis. Mari kita berdoa agar terhindar dari penyakit ini. Amiin.

Manusia telah dicipta dengan sempurna
Setiap orang pun telah ditakdirkan memiliki pasangan
Maka, syukuri yang telah diberikan

Agar hidup kita menjadi tentram

Jumat, 26 Juni 2015

So Hot!!!


Fenomena suhu ekstrem kembali terjadi di berbagai belahan dunia. Seperti yang dilansir oleh media massa, kejadian ini kini terjadi di Pakistan setelah sebelumnya menyerang negeri Bollywood, India. Fenomena alam ini pun telah menewaskan ribuan orang. Ditambah lagi, kondisi masyarakat Pakistan yang mayoritas muslim mengharuskan mereka tetap menjalankan puasa di tengah suhu yang begitu dahsyat. Sehingga, banyak yang meninggal akibat menderita dehidrasi akut.
Peningkatan suhu yang terjadi sebenarnya adalah gejala normal. Karena, saat ini matahari sedang berada di bagian utara bumi. Peristiwa ini menandakan bahwa musim akan berganti, di belahan bumi utara menjadi musim panas, di belahan bumi selatan menjadi musim dingin, sedangkan di daerah khatulistiwa akan terjadi perpindahan pergerakan angin muson. Namun, kini peningkatan suhu tersebut terjadi sangat ekstrem.
Peningkatan suhu yang ekstrem ini terjadi akibat dari adanya penyimpangan gelombang Rossby. Gelombang Rossby ini merupakan pergerakan massa udara di sepanjang aliran jet (Jet Stream). Saat terjadi penyimpangan, akhirnya membuat suhu meninggi dan aliran udara menjadi tidak normal. Saat ini, penyimpangan tersebut berada di sekitar Pakistan setelah sebelumnya di India. Sehingga, suhu udara menjadi sangat ekstrem di sana. Bahkan, ada pula yang memprakirakan kondisi ini akan bergeser ke wilayah Timur Tengah.
Tentu kita khawatir, peningkatan suhu ekstrem ini akan menimpa tanah kita. Apalagi, fenomena ini menunjukkan frekuensi yang semakin sering dengan interval tahunan. Banyak pihak yang menyatakan, perubahan iklim ini terjadi akibat pemanasan global yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan yang amat parah.
Seperti yang diketahui, negara-negara seperti India, China, Indonesia, dan banyak negara berkembang lainnya kini sedang giat membangun industri. Namun, pembangunan industri itu seringkali abai terhadap kondisi lingkungan. Banyak hutan dialihfungsikan menjadi perkebunan, pertambangan, dan permukiman sehingga tak ada lagi tutupan vegetasi yang memadai. Padahal hutan memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah fungsi klimatologis atau sebagai penjaga iklim bumi.
Kondisi hutan di berbagai negara kini semakin mengkhawatirkan. Di India, hutan yang sebelumnya banyak menutupi di bagian utara kini semakin berkurang. Dampaknya seperti yang terjadi bulan lalu, suhu meningkat drastis karena udara tidak terlembabkan oleh pepohonan. Bahkan, yang lebih parah adalah penyusutan es di pegunungan Himalaya. Penyusutan es ini tentu akan mengancam kehidupan warga di sepanjang aliran Sungai Gangga, Indus, dan sungai-sungai lain yang berhulu di Himalaya karena air akibat pencairan gletser akan melimpah di musim panas dan di tahun mendatang akan hilang hingga terjadi kekeringan.
Di Indonesia, ancaman bencana akibat perubahan iklim begitu besar. Kondisi hutan Indonesia yang semakin hari semakin menyusut akibat pembalakan liar, alih fungsi lahan menjadi kebun sawit, hingga perambahan hutan untuk pertambangan semakin memperparah kerusakannya. Ditambah lagi minimnya kesadaran untuk melakukan reboisasi dan penghijauan di berbagai tempat. Kondisi ini akan berbahaya apabila terjadi El Nino yang parah seperti yang terjadi di akhir tahun 90-an. Kebakaran hutan akan senantiasa mengancam.
Kondisi bumi yang terus memanas di usianya yang semakin renta ini sebenarnya tak bisa dari peranan manusia sebagai pengubah kondisi bumi. Manusia sebagai makhluk superior yang dapat berbuat apa saja demi memuaskan nafsunya akan membuat kondisi yang justru berdampak bagi kehidupan manusia itu sendiri. Pantaslah ketika Allah berfirman di surat Ar Ruum ayat 41
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى البَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرجِعُوْنَ
                Arti dari firman Allah tersebut adalah telah tampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar manusia merasakan akibat dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.
                Jelaslah bahwa berbagai fenomena alam dan pemanasan global yang terjadi ini merupakan akibat dari tindak-tanduk manusia yang merusak alamnya. Sehingga, seharusnya kita berpikir sejenak untuk membaca tanda-tanda yang Allah kirimkan melalui berbagai bencana agar kita dapat kembali ke jalan yang benar, jalan Allah Swt. sehingga, di kemudian hari manusia sadar dan tidak lagi meruak alam yang telah diciptakan tak lain hanya untuk kepentingan manusia.

Ingatlah, manusia adalah khalifah di muka bumi
Maka, jadilah khalifah yang bijak
Yang menjaga dan melestarikan alam
Agar kehidupan kita bahagia

Dunia dan akhirat

Sabtu, 02 Mei 2015

Sekolah Agama Berasrama: Solusi Problematika Pendidikan Indonesia



Kondisi pendidikan negeri ini cukup memprihatinkan. Adopsi sistem pendidikan Barat yang menitikberatkan pada penguasaan materi berbagai mata pelajaran tak bisa memperbaiki kondisi siswa. Justru semakin memberatkan. Bahkan, karena pengajaran agama dipinggirkan, bahkan dianggap kuno, mengakibatkan degradasi moral semakin menjadi-jadi. Kini, tampaknya kita perlu melihat lagi sistem pendidikan kita di masa sebelum terbentuknya sekolah-sekolah formal seperti masa kini.
Pada masa lalu, pendidikan di Nusantara tercirikan dengan adanya pesantren yang digagas oleh Wali Songo. Di pesantren, para santri rela menempuh jarak yang jauh demi menempa diri. Selain itu, ia akan jauh dari sanak saudara, bahkan untuk bertahun-tahun. Inilah yang mengakibatkan mereka memiliki jiwa kemandirian. Selain itu, mereka akan tinggal di asrama sebagai tempat tinggal bersama yang menumbuhkan jiwa gotong-royong dan kebersamaan. Mereka pun dilatih kedisiplinan karena asatidz atau para guru akan mendidik mereka dengan keras. Inilah yang dibutuhkan kini.
Kini, pendidikan di Indonesia terkonsentrasi di sekolah-sekolah. Siswa diwajibkan belajar dari pagi hingga sore, bahkan harus pula ikut berbagai macam bimbel dan ekskul hingga malam. Ini membuat siswa menjadi terbebani dan tidak menikmati sekolah karena sekolah hanya sekadar penggugur kewajiban semata. Selain itu, pelajaran yang dibebankan oleh kurikulum lebih menitikberatkan sebuah hasil nilai yang tinggi. Sehingga, siswa dan guru tak lagi mementingkan proses dalam mendapatkan ilmu. Maka tak heran jika banyak yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan nilai yang tinggi. Kondisi lainnya adalah biaya sekolah semakin tinggi yang membuat semakin sulitnya pendidikan dijangkau oleh semua kalangan. Atau bahkan membuat siswa memiliki perasaan ‘guru dibayar murid’ yang menyebabkan siswa menjadi rendah rasa hormatnya kepada guru. Inilah yang terjadi di sebagian besar sekolah kini.
Kondisi ini sepertinya membuat kita harus mengevaluasi lagi sistem pendidikan di Indonesia. Memang berbagai pelajaran seperti matematika, fisika, kimia, sejarah, geografi, ekonomi dan sebagainya penting. Namun, yang tak kalah penting adalah pengajaran agama yang menjadi landasan moral siswa untuk menggunakan ilmunya. Sudah sepatutnya untuk mengombinasikan berbagai sains modern dengan agama. Sehingga ada hubungan timbal balik berupa meningkatnya iman karena ilmu dan bergunanya ilmu karena iman. Inilah esensi dari sebuah pendidikan.
 Sebagai contoh saat mempelajari pelajaran eksakta untuk mengasah kemampuan analisis murid sehingga menjadi tanggap dengan keadaan yang terjadi di lingkungannya. Mempelajari ilmu sosial sehingga murid menjadi paham atas keadaan masyarakat dan menjadi cerdas dalam bersikap. Mempelajari bahasa, sastra, dan budaya sehingga mampu berbicara yang baik, logis, dan cerdas serta berguna tiap tutur katanya. Semua harus dipadukan dengan moralitas keagamaan agar menguatkan keilmuan dan kimanan. Inilah yang seharusnya dilakukan.
 Tak hanya menjadi orang yang cerdas berpikir, manusia Indonesia harunya memiliki cerdas bersikap. Cara yang efektif adalah dengan sekolah berasrama. Siswa dilatih disiplin dengan melakukan segala sesuatu di waktu yang telah ditentukan. Mereka pun belajar hidup mandiri karena tak bertemu dengan orang tua. Mereka pun akan menjadi siswa yang memiliki toleransi, tenggang rasa, kepedulian, hingga semangat gotong-royong karena hidup bersama dengan teman. Murid juga lebih mudah belajar pelajaran sekolah karena mereka lebih dapat berkonsentrasi dan tidak membuang waktu dengan hal yang tak berguna. Inilah kelebihan sekolah yang menempatkan muridnya di asrama.
Maka, sudah sepatutnya kita menengok sistem sekolah berasrama ini dan tidak lagi memandangnya sebelah mata. Karena, membangun pribadi yang baik tak bisa jika hanya dibebani dengan segudang ilmu, dibekali dengan agama, tapi harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah agama berasrama menjawab berbagai kebutuhan ini.


Membentuk kehidupan paripurna manusia Indonesia harus dilakukan. Tak cukup dengan sains eksakta dan sosial, agama harus pula diajarkan. Namun, tak cukup dengan pengetahuan saja tanpa pembiasaan. Sekolah agama berasrama akan membentuk pribadi yang kuat iman, cerdas ilmu, dan unggul dalam perilaku. Manusia yang kuat iman, cerdas ilmu, dan unggul dalam perilaku itulah manusia paripurna yang akan membangun bangsa dengan sempurna.

Allah sebagai Maha Pemilik Ilmu menjadi tujuan
Indonesia sebagai tanah air menjadi semangat perjuangan
Agama, sains, dan pembiasaan sebagai cara mencapai kesejahteraan

Selamat Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei 2015

Jumat, 17 April 2015

Persprektif Ujian Nasional dari Peserta

Polemik pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/MA/SMK terus berlanjut. Pelaksanaan UN pada Senin hingga Rabu pekan ini dipandang masih memiliki beberapa masalah. Terutama adalah kebocoran soal dan beredarnya kunci jawaban. Tadi malam, beredar kabar bahwa Mendikbud ingin pelaksanaan UN diulang di beberapa wilayah yang terindikasi mendapatkan bocoran soal. Tak ayal, ini membuat banyak orang heran dan bingung. Terutama di kalangan pelajar sendiri. Penulis, yang juga ikut dalam UN tahun ini kiranya perlu memberikan pandangan terhadap masalah ini.
UN menjadi ujian yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan dalam beberapa tahun belakangan. Sebagai penentu kelulusan, UN menjadi ujian sakral yang dihadapi peserta didik untuk menyelesaikan studi dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, karena posisinya yang menentukan kelulusan siswa, pada akhirnya banyak siswa yang merasa tidak mampu pun mencari cara lain yang tak halal, mencari kunci jawaban. Parahnya lagi, pihak sekolah pun yang tak ingin malu melihat siswanya ada yang tidak lulus, justru membiarkan hal ini terjadi. Berangkat dari hal ini, pada UN tahun ini, Mendikbud Anies Baswedan menyatakan UN tidak mempengaruhi kelulusan siswa dan hanya akan menjadi bahan pemetaan sekolah.
Seharusnya, dengan dikembalikannya penentuan kelulusan siswa ke sekolah masing-masing, membuat siswa tak lagi harus tertekan dalam melaksanakan UN. Sehingga siswa dapat menilai kemampuannya secara jujur terhadap hasil pembelajarannya selama di jenjang SMA. Namun, yang terjadi justru tetap saja banyak siswa yang mencari kunci jawaban. Dan yang parahnya lagi, naskah soal pun dibocorkan oleh oknum pihak percetakan dan disebar di internet.
Sebenarnya, beredarnya kunci jawaban UN telah menjadi hal yang lumrah dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kini menjadi menghebohkan karena, tujuan UN tahun ini yakni untuk mengetahui indeks kejujuran sekolah menjadikannya sia-sia. Kecenderungan siswa untuk mendapatkan nilai tinggi membuatnya lupa arah. Mereka pun rela merogoh kantung hingga 250 ribu hanya untuk kunci jawaban. Pengorbanan belajar menjadi hancur oleh beberapa lembaran uang.
Mengapa siswa tak ingin jujur? Ada beberapa alasan. Pertama, ia tak yakin dengan kemampuannya sendiri. Seorang siswa yang tidak berprestasi secara akademik di sekolahnya akan cenderung tidak percaya diri dengan apa yang ia kerjakan. Akhirnya ia mencari kunci jawaban hanya demi bisa lulus. Dan, ketika kini UN tak lagi menjadi penentu kelulusan, masalah ini harusnya sudah dapat terselesaikan.
Kedua, materi pembelajaran yang terlalu kompleks. Ini yang menjadi masalah bagi sebagian besar peserta UN termasuk penulis. Kompleksitas soal UN yang diujikan setiap tahunnya selalu meningkat. Sedangkan, di beberapa sekolah ada guru yang tidak rajin memberikan pengajaran di kelas. Sehingga, banyak siswa yang tidak memahami materi yang pada akhirnya menjadi tidak siap melaksanakan UN. Hal ini yang menjadi keprihatinan. Masih ada saja guru yang tak memiliki kesadaran pengabdian untuk mencerdaskan putra-putri bangsa. Bahkan, justru membiarkan siswanya mencari kunci jawaban agar nilai tetap memuaskan. Pola pikir guru yang hanya “numpang lewat kelas” tapi tak memberikan pemahaman harus diubah. Pengabdian harus lebih diutamakan dibandingkan hanya mengejar perut semata.
Ketiga, kemalasan. Inilah yang menjadi alasan utama bagi para siswa. Rasa malas para siswa menjadikan mereka tak mau belajar. Pola pikir untuk apa belajar kalau nanti kunci jawaban bisa bayar harus diubah. perjuangan untuk kesuksesan harus dibangun dari pembelajaran dengan kesabaran selama beberapa tahun. Toh, pada akhirnya ketika ia memakai kunci jawaban, tak akan ada kepuasan. Hanya rasa senang lulus saja. Namun, batin pasti tak nyaman.
Lantas, harus bagaimana?
1.       Tanamkan kejujuran sebagai landasan.
Kejujuran merupakan kunci keberkahan. Siswa jujur Insya Allah menjadi orang yang terpuji di kemudian hari. Jujur pulalah yang akan memberikan kepuasan hati, jiwa, dan pikiran. Berikanlah kebahagiaan kepada orang tua dan guru dari hasil kejujuran. Mental penyontek harus diubah menjadi mental pejuang. Bukan lagi malas, namun usaha keras.
2.       Tingkatkan perjuangan.
Siswa harus ditanamkan nilai-nilai perjuangan untuk menuju suatu tujuan. Jika tujuannya adalah lulus dengan hasil yang terbaik, maka perjuangan yang diberikan harus yang lebih baik pula. Karena, tak mungkin seseorang yang berjuang sungguh-sungguh tak Allah mudahkan baginya jalan.
3.       Teruskan doa sebagai permohonan.
Ketika belajar telah maksimal, jujur pun telah diterapkan, maka doa menjadi senjata pamungkas. Semua yang telah dikerjakan, Allahlah penentu jalan. Maka, tak mungkin rasanya kita berusaha tanpa ada pertolongan Tuhan.

                Akhirnya, UN telah dilaksanakan. Meski pemerintah menimbang perlu adanya UN ulangan, penulis merasa itu hanya akan mubazir saja. Pelajar tentu akan merasa keberatan karena akan menambah  beban belajar lagi baginya. Guru pun tak setuju karena tak semua siswa melakukan kecurangan. Jika pemerintah berdalih hanya akan diulang di sekolah yang diduga melakukan kecurangan, apakah ada sekolah yang terima diduga curang, dan apa dasar dari dugaan tersebut? Ini akan memberikan rasa ketidakadilan dan dikhawatirkan menimbulkan praduga yang tak berdasar. Penulis pun tak setuju. Karena, lebih baik memperbaiki mental para siswa dan sistem pendidikan yang berjalan dibandingkan harus mengulang ujian yang hanya menambahh beban pemerintah, sekolah, dan terutama siswa. Semoga ini bisa jadi pertimbangan.

Kamis, 08 Januari 2015

#JeSuis(Pas)Charlie - english

In a few minutes ago, the world shocked by an accident of shooting – later stated as terrorism – that happened at a city that by far save, Paris. The shooting is occurred when the anti-islam movement spread in Europe.
This accident killed 12, eight of them is journalist and also wounded other people. So, it makes a statement ‘terrorist against freedom of speech’ because there’s many journalist died here. Also, one of them is Charlie Hebdo, a journalist that known for his critic to Islam. This later be the reason for ‘Islam hate the freedom of speech’.
This incident begin when the caricature that shown Mohammad Prophet face – an Islamic honorable person – with his self-titled magazine, Charlie Hebdo in some edition. Even, an edition that make some Moslem angry is when they visualized Mohammad and said ‘100 coups de fouet, si vous n’etes pas mort de rire’ or ‘100 lash, if you are not dying of laughter’. In another edition, they also stated, ‘Mahomet deborde par les intégristes’ or ‘Mohammad overwhelmed by fundamentalists’. It’s make an opinion that fundamentalists (which do the religion not by what non-Islam want) is deviated.
In Wednesday at Paris city, happened a sudden shooting that killed people who always said ‘freedom of speech’ in pers. But, is that possible if there’s no smoke without any fire? It’s impossible when someone – which said in western media shouting ‘we have avenged the Prophet Mohammad’ and ‘God is Great’ then killed them brutally – can do that if there’s anything caused it. Also, his action causes him shooting too by the police. Absolutely, it has a reason.
As a human, our heart will be hurt if they humiliated by others. Also, we will hurt too if some person that we loved humiliated by others. As an example, when a child (person who beloved) hurt by people, his/her mother (person who loves) will protect. In these case, when Prophet Mohammad (person who beloved) hurt by some people, we as a Moslem (person who loved) will protect the honor of the prophet. By all means which could unreasonable for some people.
All Moslem agree that, Prophet Mohammad is an honor person which can’t be visualized with everything. And, non-Moslem should respect it like Moslem respect what non-Moslem do. This accident happened by the lack of understanding of non-Moslem with the Moslem view of Mohammad. And, their lack of understanding covered by the ‘freedom of speech’.
Our Prophet Mohammad gave a reflection to us. When non-Moslem at that time hostile the Moslem, especially himself, he open their heart, then make they believe in Islam sincerely. But, Mohammad always gave a differentiation between Islam and non-Islam. So, Islam never can be equated and never be mixed by non-Islam. Show proudly as a Moslem. Isyhadu Bi Anna Muslimun. Show that you are a Moslem. A good, obedient, and perfect Moslem.
Islam totally denied any violence. In this case, both side wrong. Because, the victim is the burner and the smoke is the shooter. Actually, the fire should be quenched, not the smoke. They act that ‘burning but deny the smoke’ is unacceptable. Because they just judge the result, not the cause.
It’s time to make peace around the world. Journalists should change the ‘freedom of speech’ to ‘dignified speech and journalism’. Because, freedom is not human character, it’s satanic will. So, we should promote the ‘dignified speech and journalism’. A journalism that respect all religion, especially Islam as a religion that has a perfect etiquette for its believer. So, habits the journalism that respect all people for our better future.
Moslem nowadays should learn again about Islamic peace, not Islamic freedom. Because freedom without Islamic norm is useless. But, peace is Islam itself. Mercy for all.

Now, #JeSuisCharlie or I am Charlie became hot issue around the world. But when we see what actually happened, we should rethink. #JeSuis(Pas)Charlie or I’m not Charlie is more suitable.

#JeSuis(Pas)Charlie - bahasa


Beberapa saat yang lalu, dunia digemparkan oleh aksi penembakan – kemudian dikatakan sebagai terorisme – yang terjadi di kota yang selama ini digambarkan aman, Paris. Penembakan yang menewaskan 12 orang ini terjadi pada saat gerakan anti-islam sedang menyebar luas di kawasan Eropa.
Kejadian ini menewaskan 12 orang, delapan di antaranya adalah jurnalis dan melukai belasan orang lainnya. Sehingga, tersiaklah kabar ‘teroris melumpuhkan kebebasan berpendapat’ karena banyaknya jurnalis yang tewas dalam insiden ini. Bahkan, satu di antaranya adalah Charlie Hebdo, jurnalis yang terkenal kritis terhadap dunia islam. Inilah yang kemudian dijadikan dalih ‘islam membenci kebebasan berpendapat’.
Insiden ini bermula dari munculnya karikatur yang menampakkan wajah Nabi Muhammad Saw – sosok suci umat islam – oleh majalah yang sama dengan namanya, Charlie Hebdo dalam beberapa kesempatan. Bahkan yang membuat heboh ketika sosok Nabi digambarkan sedang mengatakan “100 coups de fouet, si vous n’etes pas mort de rire” atau bila diterjemahkan bebas “100 cambukan, jika anda mati tertawa”. Hal ini tentu amat menyinggung perasaan umat islam. Di sampul majalah lainnya, dituliskan “Mahomet deborde par les intégristes” atau “Muhammad kewalahan oleh para fundamentalis”. Ini menggambarkan seolah-olah islam fundamentalis (yang menjalankan agama tidak seperti non islam inginkan) adalah sesuatu yang menyimpang.
Ya, di Rabu yang tenang di kota Paris telah terjadi penembakan yang menewaskan orang-orang yang menggelorakan ‘kebebasan berpendapat’ di kalangan pers. Namun, bukankah tak mungkin tak ada asap bila tak ada api? Tak mungkin seseorang – yang digambarkan oleh media barat bertakbir kemudian menyerang dengan brutal – dapat bertindak demikian bila tak ada sesuatu yang menyebabkannya. Terlebih tindakannya tersebut juga membuat dirinya ditembak oleh kepolisian setempat. Tentu ada sebab musababnya.
Seorang manusia pasti akan merasa sakit hati apabila dirinya dihina. Terlebih lagi orang yang begitu dicintainya dihina. Sebagai contoh, tak mungkin seorang anak (sosok yang dicintai) dihina orang lain kecuali anak tersebut akan dibela oleh ibunya (sosok yang mencintai). Demikian pula, tak mungkin Nabi Muhammad (sosok yang dicintai) dihina kecuali umat islam (sosok yang mencintai) akan membelanya. Seseorang akan membela dengan cara apapun. Termasuk yang tidak masuk akal di sebagian kalangan.
Umat islam telah bersepakat, sosok Nabi Muhammad adalah sosok yang mulia dan tidak pantas untuk divisualisasikan dalam bentuk gambar apapun. Dan seharusnya, kalangan non islam menghormati ini sebagaimana umat islam menghormati kepercayaan kalangan non islam. Kejadian ini bisa terjadi disebabkan oleh tidak pahamnya kalangan non islam terhadap kesakralan sosok Nabi Muhammad. Terlebih lagi ketidakpahamannya itu mereka lindungi dengan kalimat ‘kebebasan berpendapat’.
Namun, di kalangan umat islam sendiri harusah arif menghadapi orang yang memusuhinya. Balaslah dengan kebaikan, bukan dengan kelemahan. Karena membalas tindakan kebodohan (ketidakmengertian) seseorang dengan kebodohan (kekerasan) adalah tindakan yang tidak tepat.
Nabi Muhammad mencontohkan, saat kalangan non islam berusaha memusuhi islam, beliau justru menggerakkan hati kalangan non islam untuk mencintai islam secara maruf. Hingga akhirnya mereka pun memahami dan bahkan memasuki islam dengan kesungguhan hati. Namun, Rasul tetap menunjukkan ketegasan bahwa islam jelas berbeda dengan non islam. Sehingga, tidak bisa mencampur antara tradisi ketidakislaman dengan ajaran keislaman. Tunjukkanlah dengan rasa bangga bahwa diri ini adalah seorang muslim. Isyhadu Bi Anna Muslimun. Muslim yang baik, muslim yang taat, muslim yang paripurna.
Islam sangat menolak dan tidak menyetujui akan tindakan kekerasan dan kebrutalan. Dalam kasus ini, kedua pihak menjadi salah. Karena, pihak korban sebenarnya adalah pemantik api, sedangkan asapnya adalah tersangka yang melakukan pembunuhan di Rabu kelabu itu. Tapi, yang sebenarnya harus dipadamkan adalah apinya, bukan asapnya. Tindakan mereka yang ‘menyalakan api namun memadamkan asap’ akhirnya seperti ‘lempar batu sembunyi tangan’ atau bahkan ‘lempar batu salahkan orang’ karena mereka hanya menyalahkan akibat, tanpa mengusut sebab.
Sudah saatnya kini dunia berdamai. Kaum jurnalis kini harus mengubah ‘kebebasan berpendapat’ menjadi ‘pendapat bermartabat’. Karena, kebebasan bukanlah sifat manusia, tapi nafsu manusia. Maka, haruslah digelorakan jurnalistik yang beretika. Jurnalistik yang memahami dan menghormati kepercayaan umat beragama, terlebih lagi islam yang telah memberikan etika hidup sempurna. Oleh karena itu, budayakanlah jurnalisme yang saling menghormati agar tak tumbuh riak di kemudian hari.
Umat islam kini harus dibekali kembali dengan semangat perdamaian. Jangan mau dipancing oleh pihak-pihak yang membencinya. Tunjukkanlah kebaikan islam. Namun, perdamaian bukan berarti islam selalu dalam posisi kelemahan. Jutru, perdamaian itulah yang menjadikan kekuatan. Kekuatan untuk menebar rahmat bagi seluruh alam.
Kini, dunia ramai dengan kalimat #JeSuisCharlie atau saya adalah Charlie. Tapi, ketika melihat sosok Charlie sebagai sang pemantik api yang mengakibatkan asap yang menyesakkan dada, tak mungkinlah kita mau disamakan. #JeSuis(Pas)Charlie (Saya Bukanlah Charlie) tampaknya kini lebih pantas.